Kamis, 04 Juni 2026
--°C --
-- · --
Edukasi

Lawan Dominasi Impor Alkes 90 Persen, FKG UGM Ciptakan Pengikat Gigi dari Sutra

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
03/06/2026, 10:15 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Lawan Dominasi Impor Alkes 90 Persen, FKG UGM Ciptakan Pengikat Gigi dari Sutra

Inovasi Dental Silkbon berbahan serat sutra alami karya peneliti FKG UGM yang sukses meraih peringkat pertama dunia di ajang WURI 2026.Foto:FKG/officialweb

jogja.fin.co.id – Ketergantungan sektor kesehatan Indonesia terhadap produk luar negeri masih menjadi tantangan besar. Hingga saat ini, sekitar 90 persen material medis untuk kebutuhan kedokteran gigi di dalam negeri masih harus didatangkan melalui jalur impor.

Melihat kondisi tersebut, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) mengambil inisiatif besar dengan mengembangkan riset berbasis bahan baku lokal. Mereka memanfaatkan serat sutra alami hasil budi daya petani lokal sebagai material alternatif penanganan medis pada gigi.

Karya inovatif bernama Dental Silkbon ini terbukti mampu berbicara banyak di tingkat internasional. Inovasi pemanfaatan serat sutra tersebut sukses menyabet peringkat pertama dunia untuk kategori Representative Research Project pada ajang World University Rankings for Innovation (WURI) 2026.

Dekan FKG UGM, Prof. Dr. drg. Suryono, S.H., M.Kes., menegaskan bahwa kekuatan utama dari riset yang mereka kembangkan terletak pada keberanian mengangkat potensi dan kearifan lokal. Pihaknya ingin membuktikan bahwa material domestik mampu menyamai kualitas komponen impor.

Advertisement

“Salah satu kekuatan inovasi kita adalah mengangkat kearifan lokal untuk digunakan sebagai bagian daripada material. Seperti yang diketahui material kedokteran gigi itu kan 90 persen impor, tetapi ternyata kita dengan berbahan lokal pun bisa menciptakan,” ungkap Suryono pada Selasa, 2 Juni 2026.

Solusi Gigi Goyah dari Tangan Petani Lokal

Riset serat sutra alami yang digarap oleh FKG UGM ini dirancang untuk mengatasi masalah fungsional pada rongga mulut. Secara teknis, prototipe material kedokteran gigi ini disiapkan sebagai alat pengikat untuk mengokohkan struktur gigi yang goyah. Selain itu, serat sutra alami ini juga diproyeksikan sebagai bahan baku utama dalam pembuatan gigi tiruan.

Pilihan jatuh pada serat sutra karena karakter materialnya yang kuat, aman bagi tubuh, serta ketersediaannya yang melimpah di dalam negeri. Melalui riset ini, para peneliti UGM juga sekaligus membuka ruang kolaborasi ekonomi dengan para petani sutra di daerah selaku penyedia bahan baku utama.

Hingga saat ini, perkembangan riset Dental Silkbon telah sukses menyelesaikan fase purwarupa (prototipe). FKG UGM kini sedang mendorong agar produk berbahan lokal tersebut bisa segera melangkah ke arah hilirisasi industri agar dapat segera digunakan oleh para praktisi medis secara massal.

Selain produk serat sutra, FKG UGM juga menorehkan prestasi serupa lewat produk Propasdent, sebuah inovasi pasta gigi penjaga keseimbangan mikroflora rongga mulut yang berhasil meraih peringkat pertama dunia untuk kategori Financial Impact-Driven Technology Transfer.

Membawa Hasil Riset Keluar dari Laboratorium

Keberhasilan menyabet posisi top 100 dunia pada delapan kategori penghargaan di WURI 2026 menjadi bukti nyata bahwa riset lokal Indonesia memiliki nilai jual tinggi. Kendati demikian, Suryono mengingatkan agar budaya meneliti di lingkungan perguruan tinggi tidak sekadar berhenti pada tahap publikasi jurnal ilmiah atau mengejar angka penilaian di atas kertas semata.

Pihak fakultas mendorong setiap hasil penelitian agar terus melangkah hingga mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan menembus pasar komersial. Dampak ekonomi dan sosial yang luas dari produk riset inilah yang dinilai mampu membantu kemandirian bangsa di sektor alat kesehatan.

Advertisement

Untuk merealisasikan target tersebut, Suryono berharap manajemen universitas mendukung penuh proses pemasaran dengan membentuk unit usaha khusus. Kehadiran unit komersialisasi ini dinilai penting untuk menjembatani hasil riset fakultas dengan sektor industri manufaktur alkes.

“Kami berharap ada unit khusus di UGM yang bisa membantu komersialisasi produk hasil hilirisasi riset sehingga dapat menjadi sumber pendanaan tambahan bagi pengembangan institusi,” pungkasnya.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja