Ketika Ratusan Guru Besar Harus Lulus Ujian Kesabaran Menunggu Menteri Agama
Profesor Mahli Zainuddin Tago dari UMY saat menunggu penyerahan Surat Keputusan Guru Besar oleh Menag RI Nasaruddin Umar di Hotel Grand Mercure Harmoni, Jakarta.Foto:Dok.Prof Mahli.
jogja.fin.co.id – Suasana di depan ballroom Hotel Grand Mercure Harmoni Jakarta tampak padat. Ratusan calon Guru Besar berkumpul memenuhi area selasar sejak pukul 11.00 WIB. Agenda hari itu adalah penyerahan Surat Keputusan Guru Besar oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.
Sebanyak 119 Guru Besar dijadwalkan menerima dokumen tersebut. Lembar undangan mencantumkan acara dimulai tepat pukul 11.00 WIB. Namun, pintu ruangan utama masih tertutup rapat tanpa informasi yang jelas dari panitia.
Fasilitas tempat duduk di luar ruangan terpantau tidak mencukupi lonjakan jumlah peserta yang terus berdatangan. Akibatnya, para akademisi bergelar tinggi ini terpaksa berdiri lebih dari satu jam di koridor hotel.
Ujian Terakhir Calon Profesor
Pintu ballroom baru terbuka tepat pukul 12.00 WIB. Para peserta bergegas masuk mengisi ratusan kursi dan puluhan meja bundar yang telah disediakan. Kendati pintu telah dibuka, Menteri Agama belum terlihat di lokasi acara karena masih menghadiri agenda di tempat lain.
Baca Juga
Kondisi tersebut memaksa para peserta menunggu hingga tiga jam di dalam ruangan. Menariknya, tidak ada riak protes atau tanda-tanda kelelahan dari barisan akademisi tersebut. Suasana justru diliputi kegembiraan karena hidangan makan siang telah disajikan.
Momen menunggu ini memicu kelakar di antara sesama pendidik besar. Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMY, Profesor Majid, berkelakar mengenai keterlambatan tersebut saat memantau perkembangan sejawatnya.
"Ini adalah ujian terakhir bagi seorang Guru Besar di Kemenag," kelakar Profesor Majid.
Sentilan humor tersebut merujuk pada kontrasnya ketegangan saat proses Uji Kompetensi empat bulan sebelumnya. Momen penyerahan SK dirasa jauh lebih meringankan psikologis peserta meski diwarnai masa tunggu yang lama.
Pesan Ketawadhukan dari Menag
Baca Juga
- Kisah di Balik SK Guru Besar Prof Mahli Tago dan Canda Rektor UMY Soal Lapangan Bola
- Ketika Ratusan Guru Besar Harus Lulus Ujian Kesabaran Menunggu Menteri Agama
Acara resmi baru dimulai sekitar pukul 14.30 WIB. Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, dalam arahan intinya menyampaikan pesan mendalam mengenai tanggung jawab pemilik otoritas keilmuan tertinggi.
Nasaruddin Umar menegaskan bahwa gelar Profesor merupakan hak bagi individu yang terus berkreasi dan berijtihad. Jabatan fungsional tertinggi ini wajib mendekatkan pemiliknya pada nilai-nilai ketawadhukan, bukan kesombongan lahir batin.
Prosesi penyerahan simbolis dokumen kemudian menutup rangkaian acara pada pukul 15.30 WIB. Salah satu penerima, Profesor Mahli Zainuddin Tago dari UMY, langsung mengurus dokumen fisik berupa dua lembar SK dengan simbol Garuda asli beserta salinan digitalnya. Dokumen tersebut menjadi penanda resmi selesainya jalur panjang birokrasi pengurusan gelar tertinggi akademik di lingkungan Kementerian Agama.
Kelakar Rektor UMY dan Target Pengukuhan
Usai menerima dokumen fisik tersebut, Profesor Mahli segera membagikan momentum bahagia itu ke jejaring internal kampus dan keluarga. Komunikasi intensif langsung berjalan mengenai persiapan Pidato Pengukuhan Guru Besar.