Kritik Laga Tanpa Penonton, Jean-Paul Van Gastel Ungkap Alasan Bertahan di PSIM Jogja
Juru taktik asal Belanda, Jean-Paul Van Gastel saat memberikan instruksi taktis kepada para pemain PSIM Jogja dari pinggir lapangan.Foto:IG
jogja.fin.co.id - Pelatih Kepala PSIM Jogja, Jean-Paul Van Gastel, memastikan diri tetap menakhodai skuad Laskar Mataram untuk kompetisi musim depan. Keputusan ini ia ambil setelah menuntaskan musim perdana yang penuh dinamika pada kompetisi BRI Super League 2025/26, yang sekaligus menjadi debut karier kepelatihannya di atmosfer sepak bola Indonesia.
Juru taktik asal Belanda tersebut mengaku memetik banyak pengalaman baru yang belum pernah ia temui di Eropa. Salah satu tantangan terbesar yang harus ia hadapi adalah letak geografis antar-klub yang sangat jauh, sehingga memaksa tim melakukan perjalanan panjang demi sebuah pertandingan.
"Saya sangat menikmati tahun pertama saya di sini. Banyak sekali perjalanan yang harus dilalui, sehingga saya harus beradaptasi dengan hal tersebut," kata Van Gastel, Jumat 5 Juni 2026.
Mantan arsitek klub elit Liga Turki, FC Besiktas, ini mencontohkan manajemen waktu pemulihan fisik pemain yang terkuras akibat akomodasi luar kota. Menurutnya, berada di perjalanan atau menetap di hotel klub lawan selama berhari-hari menjadi rutinitas baru yang menantang.
Baca Juga
"Terkadang, kami harus menjalani laga tandang selama empat hari. Hal itu merupakan sesuatu yang baru bagi saya," ujar Van Gastel menambahkan.
Soroti Esensi Suporter dan Sentil Laga Kosong
Di luar kendala jarak, Van Gastel mengaku takjub dengan fanatisme luar biasa yang ditunjukkan oleh para pencinta sepak bola tanah air, khususnya pendukung setia PSIM Jogja. Kehadiran puluhan ribu suporter di tribun stadion dinilainya menjadi roh utama yang membakar motivasi bertanding anak asuhnya.
Ia mengapresiasi atmosfer luar biasa saat melakoni laga-laga besar di kota-kota besar. Pertandingan di Jakarta dan di Bandung yang dihadiri banyak penonton, menurut arsitek sepak bola berusia 54 tahun tersebut, memunculkan esensi asli dari sepak bola, yakni bermain untuk suporter yang datang dalam jumlah besar.
Atmosfer positif itu pula yang dirasakan Laskar Mataram saat menutup kompetisi musim ini di kandang sendiri melalui torehan tiga poin. Namun, di balik kekagumannya, Van Gastel memberikan catatan kritis terhadap potret muram kompetisi domestik yang dinilainya kerap merugikan tim.
"Namun sayangnya, di liga ini banyak pertandingan yang dimainkan tanpa penonton. Saya pikir hal itu sangat disayangkan karena, seperti yang saya katakan, kami bermain untuk suporter," ucap eks pemain Feyenoord tersebut secara gamblang.
Baca Juga
- Kritik Laga Tanpa Penonton, Jean-Paul Van Gastel Ungkap Alasan Bertahan di PSIM Jogja
- Amankan Pilar Pertahanan, PSIM Jogja Resmi Perpanjang Kontrak Cahya Supriadi Dua Musim
Kepincut Budaya Yogyakarta dan Stabilitas Manajemen
Meski menyelipkan kritik terhadap sistem kompetisi, hal itu tidak menyurutkan komitmen Van Gastel untuk melanjutkan proyek jangka panjang bersama PSIM Jogja. Kenyamanan kehidupan pribadi di luar lapangan menjadi faktor krusial yang membuatnya mantap menetap di Yogyakarta.
Bagi Van Gastel, menetap di kota Gudeg memberikan warna baru dalam perjalanan hidupnya bersama keluarga. Ia merasa beruntung bisa bertemu dengan lingkungan sosial baru dan melebur di dalam kebudayaan yang dinilainya sangat kaya.
Selain faktor kenyamanan kota, komitmen investasi dan visi besar jajaran manajemen klub menjadi alasan kuat lainnya bagi pelatih bertinggi 182 sentimeter ini untuk menolak tawaran klub lain. Ia melihat pemilik dan manajemen Laskar Mataram memiliki cetak biru yang jelas untuk membangun tim secara sehat dan profesional.
"Saya melihat klub ini stabil, dan pihak manajemen serta pemilik klub sangat bersedia menjadikan klub ini benar-benar stabil, sehingga mereka dapat tumbuh tahap demi tahap," tutur Van Gastel.