Lifestyle . 09/06/2026, 09:20 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Banyak orang mengawali hari dengan secangkir kopi agar tubuh terasa lebih segar dan pikiran lebih fokus. Namun, sebagian orang justru mengaku mengalami sakit kepala, tubuh terasa ringan seperti melayang, hingga sulit berkonsentrasi ketika belum menyeruput kopi seperti biasanya.
Kondisi tersebut ternyata bukan hanya persoalan kebiasaan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kafein, zat aktif yang banyak ditemukan dalam kopi, dapat memengaruhi cara kerja otak dan memicu ketergantungan apabila dikonsumsi secara rutin.
Para ilmuwan bahkan telah lama mengategorikan efek penghentian kafein sebagai kondisi yang perlu diperhatikan. Pada 1994, sakau kafein mulai dikenali secara ilmiah, sementara dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) edisi kelima, gejala penghentian kafein dimasukkan sebagai gangguan mental.
Dalam 24 jam pertama setelah seseorang menghentikan konsumsi kafein, tubuh dapat mulai menunjukkan respons tertentu. Banyak orang merasa kurang fokus, tubuh cepat lelah, atau kepala terasa berat meski tidak melakukan aktivitas berat.
Pada sebagian orang, rasa mudah tersinggung juga bisa muncul. Seiring waktu, sakit kepala dapat berkembang dan membuat aktivitas harian terasa kurang nyaman.
Kondisi itu terjadi karena tubuh mulai beradaptasi dengan hilangnya zat yang selama ini dikonsumsi secara rutin.
Joseph Stromberg dalam tulisannya di Smithsonian Magazine menjelaskan bahwa efek ketagihan kafein berasal dari cara zat tersebut bekerja di otak manusia. Menurut dia, kafein membantu menciptakan rasa waspada yang dicari banyak peminum kopi.
Setelah masuk ke tubuh, kafein diserap melalui usus kecil lalu dialirkan ke pembuluh darah. Karena dapat larut dalam air dan lemak, senyawa ini mampu menembus penghalang darah-otak sehingga cepat memengaruhi sistem saraf.
Secara kimia, struktur kafein mirip dengan adenosin, yaitu senyawa alami di otak yang berperan memunculkan rasa lelah.
Biasanya, adenosin akan menempel pada reseptor di otak dan memberi sinyal bahwa tubuh membutuhkan istirahat. Namun, kafein dapat menghalangi proses tersebut.
Stromberg menjelaskan, ketika reseptor adenosin diblokir, otak tidak segera menerima sinyal lelah. Akibatnya, seseorang merasa lebih terjaga, lebih fokus, dan memiliki energi lebih selama beberapa jam.
Penulis buku Buzzed: the Science and Lore of Caffeine and Alcohol, Stephen R. Braun, menggambarkan efek itu seperti mengganjal salah satu pedal rem utama pada otak. Dengan kata lain, tubuh menjadi lebih waspada karena mekanisme rasa lelah tertahan sementara.
Menurut Braun, kafein sebenarnya bukan stimulan utama, melainkan zat yang membantu stimulan alami tubuh bekerja lebih aktif.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media