Eksplore Jogja . 16/06/2026, 16:44 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Masyarakat Jawa masih memegang teguh kesakralan malam 1 Suro sebagai waktu penuh misteri. Pergantian tahun dalam kalender Jawa ini bukan hanya sebagai momentum pergantian tanggal, melainkan waktu mistis saat batas dunia nyata dan alam gaib dipercaya menjadi sangat tipis.
Raja Mataram Islam, Sultan Agung, memprakarsai penanggalan ini pada tahun 1633 Masehi. Sultan Agung memadukan kalender Hijriah dengan kalender Saka untuk menyatukan tradisi lokal demi persatuan rakyat.
Nama Suro sendiri mengadaptasi kata bahasa Arab, Asyura, yang berarti sepuluh. Namun, dalam perkembangannya, malam pertama bulan ini bertransformasi menjadi momen sakral spiritual yang penuh muatan gaib.
Mitos turun-temurun menyebutkan arwah leluhur kembali ke bumi bersamaan dengan berkeliarannya berbagai kekuatan tak kasat mata. Untuk menghindari petaka, masyarakat adat menerapkan sejumlah larangan ketat yang berlaku sepanjang malam.
Satu di antara pantangan paling populer adalah larangan menggelar hajatan besar, terutama pesta pernikahan. Mengadakan pernikahan pada bulan Suro diyakini bakal mengundang kesialan serta nasib buruk bagi pasangan pengantin.
Seorang warga paruh baya asal Yogyakarta, Rohati, menceritakan bahwa keluarganya masih merawat keyakinan mistis tersebut secara turun-temurun. Ia menekankan pentingnya menahan diri dari aktivitas duniawi selama bulan sakral ini.
"Bulan Suro itu tidak boleh menikahkan anak atau nekat bepergian jauh. Orang tua zaman dulu selalu berpesan, melanggar aturan ini bisa mendatangkan musibah besar," ujar Rohati saat memberikan kesaksian.
Selain larangan menikah, warga umumnya memilih mengurung diri di dalam rumah setelah matahari terbenam. Aktivitas luar ruang tanpa tujuan penting sangat tidak dianjurkan karena rawan gangguan makhluk halus.
Suasana pedesaan biasanya berubah hening total tanpa alunan musik atau keramaian. Pemilik warung memilih menutup usaha lebih awal, sementara anak-anak wajib masuk rumah sebelum malam memuncak.
Malam 1 Suro sejatinya mengarahkan manusia untuk menyepi dan melakukan introspeksi diri. Masyarakat adat mengisi waktu dengan berbagai laku spiritual demi membersihkan energi negatif.
Beberapa daerah mengimplementasikan tradisi unik seperti ritual tapa bisu di Yogyakarta. Para pelaku ritual berjalan mengitari beteng tanpa mengucapkan satu kata pun sepanjang malam sebagai simbol pengendalian batin.
Ada pula tradisi kirab budaya yang masih lestari di Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Keraton Surakarta, misalnya, rutin mengarak kebo bule atau kerbau putih sebagai simbol kesucian dan permohonan keselamatan kepada Sang Pencipta.
Meskipun modernisasi terus mengikis berbagai kepercayaan kuno, tradisi malam satu Suro tetap bertahan kokoh. Larangan-larangan mistis ini menjadi pengingat bagi manusia untuk menjaga keharmonisan antara dunia spiritual, alam, dan sesama makhluk hidup.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media