Kamis, 18 Juni 2026
--°C --
-- · --
News

Dua Wajah Malam 1 Suro di Solo: Mangkunegaran Berpesta, Kasunanan Batalkan Kirab Pusaka

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
17/06/2026, 11:15 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Dua Wajah Malam 1 Suro di Solo: Mangkunegaran Berpesta, Kasunanan Batalkan Kirab Pusaka

Suasana khidmat para peserta berkebaya dan beskap jawi jangkep berjalan dalam laku tapa bisu membawa pusaka mengitari kawasan Pura Mangkunegaran Solo.

jogja.fin.co.id - Kota Solo menyajikan dua atmosfer yang bertolak belakang pada malam pergantian Tahun Baru Jawa, Selasa malam, 16 Juni 2026. Di satu sudut kota, ribuan pasang kaki melangkah khidmat memutari keraton kecil yang sedang bersolek. Namun hanya berjarak beberapa kilometer dari sana, sebuah istana besar justru memilih menutup rapat gerbang utamanya dan membatalkan ritual tahunan secara mendadak.

Pemandangan kontras ini memotret dinamika kultural sekaligus politik internal yang sedang melanda pusat kebudayaan Jawa di Surakarta.

Pura Mangkunegaran sukses mencuri panggung utama malam itu. Sejak pukul lima sore, pelataran Pamedan sudah disesaki lautan manusia. Kerabat, tamu undangan, hingga abdi dalem berbusana adat lengkap mulai memenuhi pendapa agung menjelang petang.

Suasana sakral langsung menyergap begitu jarum jam menyentuh pukul 19.50 WIB. Satu per satu dari enam pusaka, terdiri dari lima tombak dan satu pusaka di dalam kotak kayu jodang, mulai dikeluarkan dari Dalem Ageng. Penguasa Mangkunegaran, KGPAA Mangkoenagoro X, menyaksikan langsung prosesi pengeluaran pusaka tersebut dari singgasananya.

Advertisement

Menariknya, di tengah polemik dualisme kepemimpinan Keraton Solo yang masih memanas, dua sosok yang sama-sama mendeklarasikan diri sebagai Paku Buwono (PB) XIV, yakni PB XIV Mangkubumi dan PB XIV Purbaya, justru tampak hadir duduk bersama di Mangkunegaran.

Laku Bisu dan Esensi Memulihkan Diri

Sebelum rombongan mulai berjalan, Pangeran Sepuh GPH Paundrakarna Jiwo Suryonegoro maju ke depan. Bertindak sebagai cucuk lampah atau pemimpin barisan, beliau melaporkan kesiapan 6.000 peserta kirab kepada Gusti Bhre sebelum akhirnya bendera pemberangkatan resmi dikibarkan.

Rombongan kemudian bergerak memutari rute Jalan Diponegoro, Slamet Riyadi, Kartini, RM Said, Teuku Umar, dan kembali ke titik awal. Sepanjang rute, lampu jalanan sengaja dipadamkan total. Ribuan orang berjalan dalam keheningan mutlak tanpa alas kaki, menjalani laku tapa bisu. Sementara rombongan berjalan, Gusti Bhre memilih menetap di pendapa untuk melakoni semedi semalam suntuk.

Ritual megah ini ditutup dengan tradisi rebutan udik-udik berupa koin uang yang disebarkan langsung oleh Gusti Bhre kepada masyarakat yang sudah bertahan hingga dini hari.

Ketua Panitia Penyelenggara, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo, menekankan bahwa peringatan tahun BE 1960 ini mengusung tema besar "Mulih Pulih" atau pulang untuk sembuh. Menurut beliau, seluruh rute sunyi ini bukan dirancang sebagai sebuah perayaan festival, melainkan sebuah laku tirakat bersama.

Baca Juga

"1 Sura bukan tontonan, bukan pula festival. Ini adalah undangan untuk mulih – hadir, melepaskan, dan menyambut," ujar Ancillasura saat menjabarkan makna spiritual di balik keheningan kirab malam itu.

Beliau menambahkan, "Tahun BE ini membawa kedalaman tersendiri karena menandai waktu untuk menyusun ulang diri. Kami berharap siapa pun yang hadir benar-benar menemukan pulih-nya."

Pembatalan Mendadak di Kasunanan

Advertisement

Bergeser ke Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, atmosfernya berbalik 180 derajat. Penguasa keraton, PB XIV Hamangkunagoro atau Purboyo, mengambil keputusan mengejutkan dengan membatalkan Kirab Pusaka Malam 1 Suro.

Padahal, seluruh perlengkapan kirab, termasuk obor-obor penerangan (oncor), sudah disiapkan rapi di pelataran. Namun menjelang detik-detik akhir pemberangkatan, perintah pembatalan keluar dan seluruh atribut terpaksa ditarik kembali ke gudang penyimpanan.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja