Kamis, 18 Juni 2026
--°C --
-- · --
Eksplore Jogja

Saat Ribuan Manusia Memilih Diam: Potret Magis Laku Tapa Bisu Mubeng Beteng Malam 1 Suro

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
17/06/2026, 09:37 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Saat Ribuan Manusia Memilih Diam: Potret Magis Laku Tapa Bisu Mubeng Beteng Malam 1 Suro

Ribuan orang bergerak lambat secara serempak dalam tradisi Laku Tapa Bisu malam 1 Suro di Yogyakarta.Foto:dok.jogja.fin.co.id

jogja.fin.co.id - Jarum jam bergerak tepat ke angka dua belas malam. Suara lonceng dari Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti berdenting lambat sebanyak dua belas kali. Gema besi tua itu memecah keheningan pelataran Kamandungan Lor atau Keben. Detik itu juga, sebuah perjalanan batin massal dimulai.

Ribuan orang bergerak lambat secara serempak. Mereka berjalan kaki tanpa ada satu pun kata yang keluar dari mulut. Tradisi tahunan bertajuk Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng kembali melintasi jalanan aspal Yogyakarta, Selasa malam, 16 Juni 2026.

Ritual berjalan kaki mengitari benteng pertahanan keraton ini menyimpan daya magis yang kuat. Ketua Paguyuban Abdi Dalem, KRT. Kusumanegara sempat menjelaskan mekanisme pelepasan iring-iringan.

Utusan khusus dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat melepas rombongan begitu dentang lonceng terakhir selesai mengudara. Sejak aba-aba itu berlaku, hukum larangan berbicara langsung mengikat seluruh peserta.

Advertisement

Rombongan pembawa panji-panji pusaka berjalan di barisan paling depan. Langkah kaki para abdi dalem yang mengenakan busana pranakan tanpa alas kaki menciptakan bunyi gesekan halus di atas aspal. Di belakang mereka, lautan manusia mengular sangat panjang. Butuh waktu sekitar lima belas menit hanya untuk menunggu ekor rombongan bergerak meninggalkan titik start.

Introspeksi Lewat Keheningan

Di balik kesunyian malam itu, ada prosesi spiritual yang mendalam. Publik mengenal laku ini sebagai tapa bisu.

Bagi masyarakat Jawa, mengunci mulut selama perjalanan sejauh lima kilometer adalah sarana mengendalikan diri. Keheningan total menjadi ruang terbaik untuk menengok kembali lembaran hidup selama setahun ke belakang. Ketika mulut terkunci, giliran hati yang sibuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sepanjang rute, ketertiban terjaga luar biasa. Warga yang tidak ikut berjalan memilih berdiri rapi di tepi trotoar. Mereka ikut menjaga kesakralan prosesi dengan tidak bersuara, tidak bersendawa keras, apalagi bersenda gurau. Semua menghormati keheningan.

Rute perjalanan malam itu memutari jantung wilayah budaya Yogyakarta. Lepas dari pelataran Keben, rombongan berbelok kanan menuju Alun-alun Utara, lalu menyusuri Jalan Kauman. Iring-iringan terus melaju melewati Pojok Beteng Lor Kulon, Jalan Wahid Hasyim, hingga mencapai Pojok Beteng Kidul Kulon. Perjalanan berlanjut ke timur menuju Pojok Beteng Timur, lalu mengarah ke utara melewati Jalan Gondomanan sebelum akhirnya kembali masuk ke kawasan keraton melalui Jalan Pangurakan.

Baca Juga

Merawat Tradisi Turun-Temurun

Sebelum rombongan mulai melangkah, pelataran bangsal sudah riuh sejak sore hari. Keraton Jogja membuka rangkaian acara dengan pembacaan ayat-ayat suci dan macapatan mulai pukul 21.00 WIB. Tembang-tembang Jawa yang sarat petuah hidup itu dilantunkan secara bergantian oleh para abdi dalem sebagai pengantar batin sebelum memasuki laku sunyi.

Dinas Kebudayaan DIY juga memperketat aturan kepesertaan demi menjaga kesakralan acara. Para peserta wajib mengenakan pakaian yang rapi, sopan, dan dilarang keras membawa atribut organisasi, komunitas, lembaga, maupun partai politik tertentu. Kebersihan sepanjang jalur juga menjadi poin utama yang dijaga bersama.

Advertisement

Diantara para peserta, antusiasme anak muda ikut meramaikan laku sunyi ini sebagai tanda baik. Anak-anak muda ini sedang mencari ketenangan di tengah bisingnya dunia modern. Kesunyian malam 1 Suro memberikan mereka ruang untuk jeda dan membersihkan batin.

Kekuatan utama Mubeng Beteng terletak pada kesetaraan. Di dalam barisan, tidak ada lagi sekat pangkat, jabatan, atau kelas sosial.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja