Usai Ricuh di GIK Mahasiswa UGM Buka Suara, Sampaikan Empat Tuntutan ke Pemerintah
Mahasiswa UGM menyampaikan klarifikasi dan pernyataan sikap terkait aksi dalam forum diskusi di GIK UGM pada konferensi pers di Balairung UGM.Foto:IST
jogja.fin.co.id – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan penjelasan terkait aksi yang terjadi saat forum diskusi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM pada Senin 15 Juni 2026 malam.
Aksi itu menjadi sorotan publik setelah berbagai video dan narasi mengenai jalannya acara ramai beredar di media sosial. Forum tersebut dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko.
Dalam konferensi pers dan pembacaan pernyataan sikap di Balairung UGM, Rabu 17 Juni 2026, juru bicara mahasiswa UGM, Gladwin, menegaskan aksi dilakukan secara kolektif sebagai bentuk respons atas keresahan yang dirasakan mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa datang ke lokasi karena kecewa terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Baca Juga
Gladwin menolak anggapan bahwa sejak awal mahasiswa berniat membubarkan acara. Ia mengatakan tujuan utama kedatangan mereka adalah menyampaikan kritik dan aspirasi secara langsung kepada para pejabat yang hadir.
Ia menyebut peristiwa yang terjadi di GIK merupakan ekspresi kekecewaan mahasiswa atas situasi yang selama ini dirasakan masyarakat.
"Kami datang karena keresahan itu ada dan apa yang terjadi menjadi bentuk ekspresi kami," ujar Gladwin.
Menurut dia, fokus utama yang perlu dilihat bukan pada istilah pembubaran atau penghentian acara, melainkan alasan di balik munculnya aksi tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan mahasiswa UGM, Sarah, memaparkan kronologi aksi. Ia menjelaskan mahasiswa mulai berkumpul setelah mengetahui informasi mengenai kehadiran sejumlah pejabat negara di UGM.
Kecurigaan mahasiswa, kata Sarah, muncul setelah mereka berada di lokasi acara. Menurutnya, forum yang dikemas sebagai diskusi tidak menghadirkan ruang dialog yang setara.
Baca Juga
- Usai Ungkap Mobil Dipasangi Alat Pelacak, Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Dipolisikan
- Usai Ricuh di GIK Mahasiswa UGM Buka Suara, Sampaikan Empat Tuntutan ke Pemerintah
"Kami melihat forum itu lebih banyak menampilkan capaian pemerintah dibanding menghadirkan diskusi yang substantif," kata Sarah.
Ia menilai porsi pembicaraan dalam acara itu tidak seimbang sehingga ruang pertukaran gagasan yang diharapkan mahasiswa tidak terwujud.
Sarah juga mengungkap sejumlah persoalan yang menjadi latar belakang kemarahan mahasiswa. Di antaranya nilai tukar rupiah yang terus melemah, kenaikan harga BBM non-subsidi yang dikhawatirkan memicu efek berantai, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja yang menimpa puluhan ribu pekerja.
Meski demikian, ia menegaskan mahasiswa UGM tidak menolak dialog maupun diskusi. Namun, mereka mempertanyakan kemungkinan terciptanya diskusi yang setara apabila dilakukan dengan pihak yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.