Eksplore Jogja . 22/06/2026, 13:39 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
"Dalam konteks itulah pameran ini bisa dimaknai sebagai harapan Budi Ubrux untuk menumbuhkan kehangatan dalam pasar seni rupa agar tidak hilang kemeriahannya," ujar Agus Noor.
Agus Noor yang juga dikenal sebagai cerpenis nasional mengaitkan konsep pameran ini dengan teks ramalan Kitab Jangka Jayabaya karya Ranggawarsito yang menyebutkan istilah pasar ilang kumandange.
Konteks ramalan tersebut dirasa relevan dengan situasi lesunya pasar serta kecemasan sosial di era digital saat ini.
Agus Noor menjelaskan goresan cepat cat air Budi Ubrux di tengah hiruk-pikuk pasar mengajak publik merenungkan kembali arti sebuah ruang interaksi.
Menurutnya, esensi pasar tradisional tidak boleh terbatas pada aktivitas transaksi ekonomi atau keramaian semata.
Lebih dari itu, pasar merupakan ruang intim untuk pertemuan fisik sekaligus kedalaman emosional antarmanusia.
Pameran tunggal ini sendiri dibuka secara resmi oleh tokoh politik Ganjar Pranowo dalam rangkaian acara yang dijadwalkan bergulir dari Juni hingga Agustus 2026.
Kehadiran figur publik dan kolektor kakap di Laku Art Space Bantul menegaskan pentingnya pembacaan ulang terhadap pencapaian teknis terbaru Budi Ubrux, yang berhasil memanfaatkan kecepatan cat air untuk merekam realitas sosial peternak sapi dan nelayan tradisional di Yogyakarta.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media