Eksplore Jogja . 25/06/2026, 14:43 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
Salah satu hal yang membuat Mbah Asih optimistis adalah keterlibatan generasi muda dalam kegiatan tersebut. Ia melihat semakin banyak anak muda yang mulai mengenal dan mengikuti tradisi yang selama ini hidup di lereng Merapi.
Partisipasi tersebut menjadi penanda bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan generasi muda menjadi harapan agar tradisi yang telah berjalan selama bertahun-tahun tidak berhenti pada satu generasi saja.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa yang turut hadir dalam kegiatan itu menilai Laku Tapa Brata memiliki makna penting bagi masyarakat lereng Merapi.
Menurut Danang, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus ungkapan syukur atas berbagai anugerah yang diberikan Allah SWT melalui Gunung Merapi yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
"Semoga Laku Tapa Brata terus lestari sebagai salah satu tradisi warga lereng Merapi yang tidak lekang oleh zaman," ujarnya.
Hampir 19 tahun sejak pertama kali digelar, Laku Tapa Brata masih bertahan di lereng Merapi. Tradisi itu terus hidup bersama masyarakat, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di Petilasan Mbah Maridjan, Mbah Asih kini meneruskan tugas menjaga warisan yang pernah ditanamkan ayahnya, agar tetap dikenal dan dijalankan oleh masyarakat Merapi pada masa mendatang.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media