Jumat, 26 Juni 2026
--°C --
-- · --
Eksplore Jogja

Ketika Laku Tapa Brata Menjadi Jejak Warisan Mbah Maridjan di Lereng Merapi

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
25/06/2026, 14:43 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Ketika Laku Tapa Brata Menjadi Jejak Warisan Mbah Maridjan di Lereng Merapi

Mbah Asih memimpin tradisi Laku Tapa Brata di Petilasan Mbah Maridjan, Kinahrejo, Sleman

jogja.fin.co.id – Malam itu, suasana di Petilasan Mbah Maridjan, Kinahrejo, lereng Gunung Merapi, terasa tenang. Tembang macapat mengalun pelan, doa-doa dipanjatkan, sementara warga duduk bersama mengikuti rangkaian Laku Tapa Brata yang digelar pada Malam 10 Suro, Rabu 24 Juni 2026.

Di tengah kegiatan tersebut, berdiri sosok yang tidak asing bagi masyarakat Merapi. Asihono atau Mbah Asih, Juru Kunci Merapi yang kini melanjutkan peran yang pernah dijalankan ayahnya, almarhum Mbah Maridjan.

Bagi Mbah Asih, Laku Tapa Brata bukan hanya soal tradisi tahunan. Kegiatan itu menjadi bagian dari upayanya menjaga warisan yang telah ditanamkan Mbah Maridjan kepada masyarakat lereng Merapi.

Tradisi tersebut telah berlangsung sejak 2006. Selama hampir dua dekade, Laku Tapa Brata tetap digelar setiap Malam 10 Suro sebagai bagian dari pelestarian budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat.

"Laku Tapa Brata dilakukan pada Malam 10 Suro dan telah berlangsung sejak tahun 2006," kata Mbah Asih.

Ia menuturkan bahwa tradisi itu juga menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai yang diwariskan ayahnya. Karena itu, kegiatan tersebut terus dipertahankan meski zaman terus berubah.

"Kegiatan ini menjadi sarana pelestarian tradisi budaya dan saya sekaligus melanjutkan Almarhum Bapak Maridjan," ujarnya.

Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

Di lereng Merapi, nama Mbah Maridjan tidak hanya dikenang sebagai juru kunci. Banyak warga juga mengingatnya sebagai sosok yang menjaga tradisi dan kedekatan dengan masyarakat.

Warisan itulah yang kini berusaha dirawat Mbah Asih. Melalui Laku Tapa Brata, ia ingin memastikan nilai-nilai yang selama ini hidup di tengah masyarakat tetap diteruskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga

Menurut Mbah Asih, kegiatan tersebut tidak hanya berbicara soal budaya. Di dalamnya terdapat ruang bagi masyarakat untuk memperkuat kebersamaan dan memperdalam nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam prosesi tersebut, peserta mengikuti pembacaan macapat, doa bersama, dan tirakat. Seluruh rangkaian berlangsung dalam suasana khidmat di kawasan Petilasan Mbah Maridjan yang memiliki arti penting bagi warga lereng Merapi.

Bagi masyarakat yang hadir, Laku Tapa Brata juga menjadi sarana memanjatkan doa.

"Dengan Laku Tapa Brata menjadi sarana untuk memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT untuk dijauhkan dari mara bahaya," kata Mbah Asih.

Generasi Muda Mulai Ikut Menjaga

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja