Eksplore Jogja . 30/06/2026, 15:38 WIB

Ustadz Djundan Arief: Sepulang Haji Kok Tetap Maksiat, Berarti Kehilangan Nilai Mabrur

Penulis : Lina  |  Editor : Lina

jogja.fin.co.id - Perubahan perilaku pasca-menunaikan ibadah di tanah suci menjadi indikator utama dalam mengukur bobot spiritual seorang haji. Alumni haji dituntut memiliki komitmen kuat untuk melakukan lompatan besar menjadi pribadi yang jauh lebih baik dalam segala aspek kehidupan.

Sorotan tajam mengenai fenomena sosial keagamaan tersebut mengemuka dalam forum Kajian Multazam SOC 69. Kegiatan keagamaan ini berlangsung di Bale Timoho, Kota Yogyakarta, pada Ahad, 28 Juni 2026.

Ustadz KH Djundan Arief selaku pembicara utama memaparkan esensi haji terletak pada transformasi diri selepas pulang ke tanah air. Apabila seorang haji tidak menunjukkan perbaikan nyata pada kualitas ibadah, pola pikir, maupun hubungan muamalah sehari-hari, maka keberangkatan ke tanah suci terancam sia-sia.

Djundan mengingatkan konsekuensi logis dari gelar keagamaan yang masyarakat sematkan. Menurutnya, kegagalan dalam memperbaiki komitmen moral menandakan hilangnya substansi kesucian ibadah tersebut.

"Kalau seorang sudah berhaji kok masih melakukan aksi-aksi maksiat, bid'ah, dan masih melakukan kegiatan syirik dan musyrik, maka hajinya berpredikat tidak lulus menjadi mabrur," tegas Ustadz Djundan di hadapan seratusan jamaah.

Menjadi Patokan Kebaikan Masyarakat

Pihaknya menambahkan bahwa predikat haji membawa beban tanggung jawab sosial yang besar di tengah lingkungan tempat tinggal. Publik secara otomatis memosisikan figur tersebut sebagai figur panutan atau standar moral dalam bermasyarakat.

Oleh karena itu, setiap alumnus haji perlu meningkatkan kewaspadaan dalam bertindak agar tidak mencoreng citra ibadah yang telah mereka laksanakan.

Peningkatan aktivitas ibadah ritual seperti rajin mendatangi masjid serta konsisten memperbanyak infak dan sedekah merupakan konsekuensi logis yang wajar demi merawat nilai kemabruran.

"Seorang dengan predikat haji, dia semakin hati-hati karena dilihat dan dijadikan patokan kebaikan banyak orang," urai Ustadz Djundan.

Baca Juga

Di samping penguatan aspek spiritual personal, haji mabrur wajib memegang peran sebagai pelopor perbaikan di sektor riil.

Gerakan hijrah tersebut juga harus menyentuh ranah operasional bisnis maupun tata kelola keuangan keluarga dengan mengalihkan transaksi dari sistem perbankan konvensional menuju sistem berbasis syariah.

Solidaritas Global dan Kesiapan Merawat Kebaikan

Tanggung jawab sosial alumni haji juga mencakup kepekaan kolektif terhadap dinamika eksternal. Ustadz KH Suhudi yang turut mengisi sesi kajian meminta para jamaah untuk menumbuhkan kepedulian yang tinggi terhadap kondisi sosial.

Suhudi mendorong alumni haji untuk berada di garda terdepan dalam memberantas kemaksiatan di lingkungan sekitar. Selain itu, penderitaan umat muslim di wilayah konflik luar negeri seperti Irak dan Palestina akibat agresi militer juga harus menjadi perhatian spiritual melalui untaian doa.

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com