Edukasi . 21/08/2026, 10:07 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
Di tengah masyarakat kita, ada sebuah frasa yang sering kali diungkapkan dengan nada pasrah yaitu "sakit tua" jika mendapati orang tua terbaring sakit.
Frasa ini seolah menjadi pemakluman untuk melabeli para orang tua lanjut usia mulai kehilangan gairah hidup. Apalagi orang tua hanya bisa terbaring di tempat tidur, atau kehilangan tenaga.
Sebagian besar anak atau anggota keluarga kerap memandang kondisi lemah tersebut sebagai sebuah keniscayaan biologis.
"Sudah sepuh, wajar kalau sakit-sakitan," demikian sering kali tanpa sadar terucap.
Pengobatan pun kemudian dilakukan ala kadarnya, hanya formalitas menggugurkan kewajiban.
Pertanyaannya, benarkah ada penyakit yang secara medis bernama "sakit tua"?
Ataukah frasa tersebut sejatinya hanyalah wujud dari ketidaktahuan kita, atau bahkan bentuk pengabaian terhadap keluhan tubuh orang tua yang sebenarnya masih bisa disembuhkan?
Saya pernah mengalami pada situasi itu, ketika menyaksikan bagaimana taksiran "sakit tua" hampir saja merenggut nyawa ibu.
Semuanya bermula di Yogyakarta. Ibu saya, saat itu berusia 73 tahun, mendadak mengeluhkan kondisi tubuhnya yang dirasa "tidak enak".
Ketika ditanya bagian mana yang sakit, beliau kesulitan menjelaskan secara spesifik. Rasanya hanya lemas luar biasa, seluruh badan pegal, dan rasa mual dan ingin muntah.
Sebagai anak, kami tentu bertindak cepat membawanya ke rumah sakit. Di sana, dokter melakukan pemeriksaan sampel darah lengkap.
Beberapa jam menunggu, hasil lab keluar dan dokter menyampaikan kabar yang sepintas menenangkan. Seluruh indikator darah ibu berada dalam rentang normal.
Tidak ada infeksi, tidak ada gula darah yang tinggi, atau fungsi organ utama yang rusak.
Dokter kemudian memberikan suntikan vitamin untuk menyegarkan tubuh serta meresepkan obat penurun asam lambung.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media