Senin, 31 Agustus 2026
--°C --
-- · --
Eksplore Jogja

Gen Z Tak Kenal Sego Gurih dan Endhog Abang, Kuliner Sekaten Jogja Krisis Regenerasi

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
31/08/2026, 17:48 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Gen Z Tak Kenal Sego Gurih dan Endhog Abang, Kuliner Sekaten Jogja Krisis Regenerasi

Pedagang sego gurih dan endhog abang melayani pembeli pada perayaan Sekaten di Yogyakarta.Foto:dok.uwm

jogja.fin.co.id – Tradisi kuliner khas Sekaten seperti sego gurih dan endhog abang menghadapi ancaman pergeseran pasar. Generasi Z dinilai belum memiliki keterikatan emosional terhadap hidangan tradisional ini dibanding generasi terdahulu.

Kondisi tersebut menjadi sorotan Dosen Program Studi Akuntansi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Nisfatul Izzah. Menurutnya, loyalitas konsumen kuliner Sekaten saat ini masih didominasi pelanggan lama yang terikat memori masa kecil.

"Bagi pelanggan lama, ada memori masa kecil yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Menemui pedagang langganan dan melarisi dagangan mereka setahun sekali sudah menjadi kebiasaan," kata Izzah, Kamis 27 Agustus 2026.

Namun, pola hubungan emosional tersebut terancam terputus. Generasi muda cenderung menganggap hidangan tradisional Sekaten memiliki cita rasa yang asing di lidah mereka.

Dalam perspektif akuntansi budaya, loyalitas konsumen tergolong sebagai aset tidak berwujud. Aset ini berpotensi menyusut jika tidak terjadi regenerasi pembeli secara berkesinambungan.

"Generasi Z kurang berminat karena makanan tradisional ini dianggap memiliki rasa yang asing bagi mereka. Perlu pemantik yang mampu membuat generasi muda penasaran untuk datang dan mengenal kuliner Sekaten," jelas Izzah.

Ia menekankan pentingnya kemasan komunikasi baru berbasis nilai sejarah dan filosofi. Pendekatan ini dinilai lebih efektif menarik perhatian anak muda ketimbang sekadar mengandalkan narasi nostalgia.

Keberlanjutan usaha pedagang tradisional Sekaten bergantung pada kemampuan beradaptasi. Pedagang didorong melakukan inovasi penyajian dan promosi tanpa mengubah karakter asli hidangan.

Di sisi lain, kebersihan dan kualitas makanan tetap menjadi syarat utama menjaga kepercayaan konsumen. Peran pemerintah daerah melalui muatan lokal di sekolah juga diperlukan untuk mengenalkan kekayaan kuliner Nusantara.

"Jika tidak ada jembatan budaya yang mampu memantik rasa penasaran Generasi Z, kita berpotensi kehilangan aset ekonomi dan pariwisata yang berharga dalam beberapa dekade mendatang," ujar Izzah.

Sekaten sendiri merupakan rangkaian perayaan tahunan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Yogyakarta. Selain bernilai religius, perayaan ini menjadi penggerak ekonomi rakyat melalui kehadiran pedagang sego gurih dan endhog abang.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja