Rabu, 14 Oktober 2026
--°C --
-- · --
News

Kenapa Petani Selalu Buntung Padahal Hasil Panen Melimpah? Wamenkop Ungkap Biang Keroknya

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
13/10/2026, 14:48 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Kenapa Petani Selalu Buntung Padahal Hasil Panen Melimpah? Wamenkop Ungkap Biang Keroknya

Ilustrasi petani saat panen yang melimpah.Foto:dok.humasjogja

jogja.fin.co.id – Hasil panen melimpah ternyata belum menjamin petani menikmati keuntungan. Di lapangan, para penghasil pangan ini kerap tidak memiliki daya menentukan harga jual produk mereka sendiri.

Wakil Menteri Koperasi RI, Farida Farichah, menilai ada ketimpangan nyata antara kerja keras petani dengan pendapatan yang mereka bawa pulang.

"Posisi tawar petani belum sebanding dengan sumber daya dan komoditas yang mereka hasilkan," ujar Farida saat berbicara dalam forum kerja sama koperasi ASEAN di Hotel Santika Premiere Jogja, Senin 12 Oktober 2026.

Menurut Farida, masalah utama terletak pada tiadanya kendali atas rantai penjualan. Petani sering kali hanya menjadi pihak penyuplai bahan mentah tanpa memiliki akses langsung ke penentuan harga pasar.

Kondisi ini makin berat akibat lonjakan biaya produksi dan ketidakpastian iklim. Untuk memutus lingkaran masalah tersebut, lembaga koperasi diminta tidak lagi pasif.

Farida menegaskan koperasi pertanian wajib bergerak melampaui urusan administrasi kelembagaan. Koperasi perlu masuk langsung ke sektor teknis produksi, pengolahan, hingga jaringan distribusi.

"Koperasi dapat membantu menghubungkan petani ke pembiayaan, teknologi, sarana produksi, pengolahan, distribusi, hingga pasar," kata Farida.

Keterlibatan langsung ini dinilai mampu memotong biaya produksi yang membengkak. Dampak akhirnya, nilai tambah komoditas bisa masuk ke kantong petani, bukan hilang di tingkat perantara.

Kelemahan posisi tawar petani ini juga mendapat perhatian Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X. Forum regional dinilai menjadi wadah tepat untuk mencari solusi bersama atas tekanan rantai pasok.

Paku Alam X menekankan pentingnya kerja sama antarnegara anggota ASEAN untuk memperkuat daya saing produk lokal.

"Perbedaan justru menjadi kekuatan untuk saling belajar, berbagi solusi, dan membangun pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara," tutur Paku Alam X.

Ia menyebut pengembangan koperasi harus berdampak nyata pada kesejahteraan anggota. Sinergi regional diharapkan mempermudah perluasan akses pasar dan transfer teknologi pertanian antarnegara.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja