Sabtu, 06 Juni 2026
--°C --
-- · --
Edukasi

Atasi Sapi Kurban Ngamuk, UGM Ciptakan Alat Potong Portabel Hemat Waktu

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
19/05/2026, 13:50 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Atasi Sapi Kurban Ngamuk, UGM Ciptakan Alat Potong Portabel Hemat Waktu

Ilustrasi inovasi alat restraining box portabel buatan Universitas Gadjah Mada untuk merebahkan sapi kurban secara aman dan manusiawi.Foto:UGM

jogja.fin.co.id – Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) Yogyakarta memperkenalkan sebuah inovasi teknologi mutakhir bernama Gama Abilawa Portable Restraining Box. Alat berbentuk kotak portabel ini dirancang khusus untuk mendongkrak efisiensi dalam proses pemotongan ternak kurban, sekaligus menjadi solusi konkret dalam menerapkan standar kesejahteraan hewan di masyarakat.

Selama ini, masyarakat umum seringkali melakukan pemotongan sapi kurban di luar fasilitas Tempat Pemotongan Hewan (TPH) resmi. Keterbatasan sarana ini membuat penanganan ternak, mulai dari proses penambatan, penggiringan, hingga pengikatan kaki, berjalan kurang manusiawi dan memicu tekanan fisik maupun psikis pada hewan.

Pangkas Waktu Kerja dan Minimalkan Risiko Cedera

Dampak dari penanganan konvensional yang kasar tidak jarang memicu ternak menjadi stres, mengamuk, hingga mengakibatkan luka parah pada hewan dan kecelakaan kerja bagi para petugas penyembelih. Kehadiran kotak rebah portabel ini menjadi jawaban atas kekhawatiran tahunan panitia kurban tersebut.

Advertisement

Guru Besar Fapet UGM sekaligus penggagas teknologi ini, Prof Panjono, mengungkapkan bahwa alat ini sengaja didesain portabel agar fleksibel dan mudah dipindahkan. Hal ini membuatnya sangat cocok untuk digunakan oleh panitia kurban di berbagai tempat ibadah maupun pelosok daerah yang minim fasilitas TPH.

"Inovasi portable restraining box hadir untuk mempermudah penanganan ternak secara lebih aman dan manusiawi. Dengan alat ini, sapi dapat diarahkan masuk ke dalam box dengan lebih tenang dan siap disembelih tanpa harus mendapat perlakuan yang tidak manusiawi," ujar Prof Panjono dalam forum "Fapet Menyapa" di Yogyakarta.

Riset lapangan mencatat bahwa pengembangan alat yang sudah dimulai sejak tahun 2019 ini memberikan dampak yang luar biasa pada efisiensi kerja. Penggunaan kotak portabel ini terbukti mampu mempercepat total durasi proses pemotongan hewan kurban hingga mencapai 52,5 persen lebih singkat.

Tidak hanya menghemat waktu, operasional penyembelihan yang biasanya membutuhkan belasan orang kini cukup ditangani oleh lima personel saja secara aman. Alhasil, tingkat stres pada sapi dapat ditekan seminimal mungkin, yang secara otomatis membuat kualitas daging kurban yang dihasilkan menjadi jauh lebih baik dan sehat.

Kembangkan Protokol Kesejahteraan Hewan Wilayah Tropis

Di sisi lain, upaya peningkatan standar peternakan di Indonesia tidak berhenti pada penyediaan perangkat fisik saja. Tim dari Laboratorium Ternak Potong, Kerja, dan Kesayangan Fapet UGM juga tengah sibuk mematangkan sistem pendukung non-fisik.

Baca Juga

Anggota tim peneliti Fapet UGM, Prof Tri Satya Mastuti Widi, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini sukses mengembangkan protokol khusus untuk mengukur tingkat kesejahteraan hewan yang disesuaikan dengan iklim tropis di tanah air. Pengukuran ini wajib berjalan secara objektif dan sistematis dengan melihat dari sudut pandang kondisi psikologis si hewan itu sendiri.

"Pengukuran kesejahteraan hewan harus dilakukan secara objektif dan sistematis berdasarkan apa yang dialami hewan. Karena itu kami mengembangkan berbagai protokol pengukuran yang sesuai dengan sistem produksi di daerah tropis, baik intensif, semi-intensif, maupun ekstensif," kata Prof Tri Satya.

Sistem protokol ini dirancang adaptif sehingga dapat diterapkan pada berbagai skala peternakan dan jenis hewan, mulai dari ternak besar, ternak kerja, hewan olahraga, hingga hewan kesayangan. Bahkan, standardisasi ini juga mulai diimplementasikan pada Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA) guna memastikan seluruh industri peternakan nasional bergerak lebih modern dan manusiawi.

Advertisement

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
Penulis jogja.fin.co.id