Belum Nol Kasus PMK Pemkab Sleman Perketat Cek Fisik Ternak Masuk dari Luar Daerah
Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, Foto:Humas Sleman
jogja.fin.co.id - Pemerintah Kabupaten Sleman memperketat pengawasan lalu lintas dan pemeriksaan kesehatan hewan ternak menjelang perayaan Idul Adha 2026. Langkah preventif ini bertujuan memberikan jaminan kepada masyarakat guna mendapatkan daging kurban yang memenuhi kriteria Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) di tengah masih adanya ancaman sejumlah penyakit menular menahun.
Pengawasan ketat menyasar ratusan titik penjualan dan kandang kelompok ternak di seluruh wilayah Sleman. Prioritas utama petugas berfokus pada deteksi dini penyakit menular strategis yang berpotensi merugikan peternak serta mengancam kesehatan manusia.
Salah satu fokus perhatian serius berada di wilayah sisi timur Sleman. Otoritas veteriner daerah setempat menaruh kewaspadaan penuh guna mengantisipasi penyebaran penyakit yang disebabkan oleh bakteri wilayah penularan khusus.
Imunisasi Massal Antraks di Gayamharjo Prambanan
Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, menegaskan bahwa instansinya telah meluncurkan tindakan pengendalian konkret di zona rawan. Wilayah Kalurahan Gayamharjo, Kapanewon Prambanan, menjadi sasaran utama pelaksanaan vaksinasi Antraks secara massal pada ternak warga.
Baca Juga
"Kami bergerak cepat melakukan tindakan lokalisasi dan pembentengan imun ternak di Gayamharjo Prambanan melalui vaksinasi rutin. Sejauh ini, berdasarkan pemantauan berkala di pasar hewan, petugas belum menemukan adanya kasus ternak sapi yang harus diafkir akibat penyakit Antraks," jelas Rofiq Andriyanto dalam jumpa pers di Dinas Peternakan Sleman, Kamis 21 Mei 2026.
Selain Antraks, tim Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan juga mengawasi ketat potensi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang hingga kini belum menyentuh status zero case atau nol kasus di Indonesia. Vaksinasi PMK berkala terus berjalan di 549 kandang kelompok ternak binaan agar sapi-sapi yang beredar di pasaran benar-benar dalam kondisi steril dan sehat fit.
Evaluasi Temuan Kasus Cacing Hati Tahun Lalu
Bukan hanya penyakit menular di pasar hewan, Dinas Pertanian Sleman juga meminta para panitia kurban atau takmir masjid mewaspadai penyakit bagian dalam hewan seperti cacing hati (Fasciola hepatica). Berdasarkan evaluasi pemotongan pada tahun 2025 lalu, persentase temuan cacing hati pada organ dalam hewan kurban masih tergolong fluktuatif.
Data resmi pemotongan tahun 2025 menunjukkan kasus cacing hati pada sapi berada di angka 7,99 persen dari total sapi yang dipotong. Angka ini mencatatkan kenaikan tipis jika membandingkannya dengan temuan tahun 2024 yang bertengger pada level 7,23 persen.
Baca Juga
- Polisi Periksa Lima Saksi Kasus Dugaan Malpraktik Balita Tewas di RSUD Prambanan
- Niat Berburu Sunrise Usai Main Skateboard, Dua Pemuda Tewas di Embung Kaliaji Sleman
Sebaliknya, kasus cacing hati pada komoditas domba dan kambing tahun lalu tercatat sangat rendah, masing-masing hanya menyentuh 0,15 persen dan 0,40 persen. Rofiq menambahkan, pengetatan pemeriksaan fisik hewan di tingkat pasar tiban sengaja digenjot guna menekan angka temuan penyakit dalam ini saat hari penyembelihan nanti.
Di samping penyakit berat, petugas di lapangan juga sering mengidentifikasi gangguan kesehatan ringan pada mata dan kulit hewan akibat faktor kelelahan transportasi jarak jauh. Beberapa di antaranya meliputi penyakit mata merah (pink eye atau conjunctivitis), kudis (scabies), serta kropeng pada mulut ternak (orf). Petugas Puskeswan memastikan hewan dengan gejala ringan ini langsung mendapatkan penanganan medis di tempat agar kembali bugar sebelum hari H.