Jumat, 05 Juni 2026
--°C --
-- · --
News

Garebeg Besar 2026 Tanpa Arak Arakan, Sultan Tegaskan Ikuti Arahan Penghematan APBN

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
21/05/2026, 23:15 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Garebeg Besar 2026 Tanpa Arak Arakan, Sultan Tegaskan Ikuti Arahan Penghematan APBN

Sri Sultan Hamengku Buwono X saat memberikan keterangan pers mengenai kebijakan penghematan anggaran upacara adat Garebeg Besar 2026 di Kompleks Kepatihan.

jogja.fin.co.id - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, membeberkan alasan mendasar di balik kebijakan penyederhanaan upacara adat Garebeg Besar tahun ini. Pihak istana memutuskan untuk memangkas sejumlah rangkaian luar ruangan pada prosesi adat menyambut Idul Adha yang bakal berlangsung pada Rabu, 27 Mei 2026.

Langkah memusatkan seluruh rangkaian inti keagamaan di dalam internal benteng Keraton Yogyakarta tersebut murni sebagai bentuk efisiensi pembiayaan. Kebijakan operasional ini mencerminkan sikap realistis institusi adat dalam mengelola anggaran kebudayaan dengan menyesuaikan dinamika ekonomi nasional.

Keputusan tersebut sengaja diambil demi menyelaraskan ritme kerja dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Otoritas keraton menilai seluruh elemen penyerapan anggaran saat ini memang wajib mengedepankan prinsip kedisiplinan fiskal.

"Prinsipnya kita juga melakukan penghematan. Kita melihat pemerintah pusat melalui APBN melakukan penghematan, begitu pula dengan pemerintah daerah. Keputusan efisiensi pada komponen biaya yang besar ini menjadi langkah yang paling logis," tegas Sri Sultan Hamengku Buwono X saat memberikan keterangan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Kamis, 21 Mei 2026.

Advertisement

Pemangkasan Biaya Logistik dan Kirab Luar Ruangan

Sri Sultan mengungkapkan bahwa komponen pembiayaan terbesar dalam penyelenggaraan tradisi tahunan tersebut selama ini terserap pada sektor mobilisasi logistik. Selain itu, pergerakan kirab luar ruangan berskala besar yang melibatkan ratusan personel prajurit juga memakan porsi anggaran yang signifikan.

Melalui pembatasan ruang gerak prosesi yang kini terpusat di dalam area internal istana, manajemen keraton berhasil menekan pengeluaran operasional secara drastis. Penyesuaian pada lini logistik tersebut dinilai sebagai opsi yang paling masuk akal tanpa harus mengurangi nilai kesakralan dari esensi doa syukur Garebeg itu sendiri.

Meskipun pelaksanaan Garebeg Besar 2026 berjalan tanpa arak-arakan gunungan keluar benteng, Sultan memastikan esensi pelestarian budaya tidak akan luntur. Pihak keraton tetap mempertahankan prosesi inti ritual sebagai bentuk tanggung jawab spiritual kepada masyarakat dan leluhur.

Kebijakan Efisiensi Anggaran Bersifat Kondisional

Kepala daerah DIY ini juga menggarisbawahi bahwa format penyederhanaan upacara adat ini tidak bersifat permanen. Pihak istana belum mengetok palu apakah model pembatasan ini bakal terus berlaku pada upacara-upacara adat besar pada masa mendatang.

Baca Juga

Manajemen Keraton Yogyakarta memilih untuk terus memantau dinamika pemulihan ekonomi serta stabilitas anggaran daerah ke depan sebelum menyusun cetak biru upacara berikutnya. Sultan membuka peluang untuk mengembalikan kemeriahan kirab budaya seperti sediakala jika kondisi finansial negara dan daerah sudah kembali bugar.

"Saya belum bisa menentukan format ke depan seperti apa. Kami harus melihat perkembangan situasi terlebih dahulu. Jika memang kondisi perekonomian sudah jauh lebih baik, tidak menutup kemungkinan prosesi kirab luar ruangan akan kami munculkan kembali ke publik," pungkas Sri Sultan.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja