Tak Mau Kecolongan! BBPOM DIY Siap Perketat Pengawasan Menu Makan Bergizi Gratis
Ilustrasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Yogyakarta
jogja.fin.co.id – Pengawasan terhadap kualitas dan keamanan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Daerah Istimewa Yogyakarta mulai menjadi perhatian serius. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIY menyatakan kesiapannya untuk terlibat aktif dalam mengawal mutu makanan guna meminimalkan risiko gangguan kesehatan, termasuk potensi kejadian luar biasa (KLB).
Kepala BBPOM DIY, Ani Fatimah Isfarjanti menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan langkah mitigasi dengan melakukan pemeriksaan langsung ke fasilitas penyedia makanan bergizi atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama ketika muncul indikasi persoalan kesehatan yang perlu ditelusuri.
“Ketika ada kejadian luar biasa, kami langsung melakukan pemeriksaan di SPPG terkait untuk mengetahui sumber persoalan dan potensi penyebabnya,” ujar Ani di Yogyakarta, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurutnya, pemeriksaan tersebut tidak berhenti pada tahap evaluasi semata. Tim BBPOM DIY juga menyampaikan rekomendasi teknis kepada pengelola SPPG mengenai aspek yang perlu segera diperbaiki agar potensi risiko kesehatan dapat ditekan.
Baca Juga
“Setelah dilakukan evaluasi, hasil temuan akan kami sampaikan sebagai bahan perbaikan dan tindak lanjut oleh pihak SPPG, kemudian dikoordinasikan kembali bersama BBPOM,” jelasnya.
Meski pengawasan rutin secara berkala belum diterapkan, BBPOM DIY tetap menjalankan pemantauan bersifat insidental dengan mengunjungi sejumlah fasilitas penyedia MBG di berbagai wilayah.
Ani mengungkapkan, pengawasan secara menyeluruh masih menunggu pedoman dan perangkat teknis dari pemerintah pusat. Namun demikian, lembaganya siap bergerak apabila mekanisme resmi telah diterapkan.
“Kalau nanti sudah ada tools atau mekanisme dari pusat, tentu kami siap melakukan pengawasan secara rutin di seluruh SPPG yang ada di DIY,” katanya.
Ia memastikan, jika terjadi persoalan keamanan pangan di wilayah seperti Gunungkidul, Bantul, Sleman, Kulon Progo hingga Kota Yogyakarta, penanganannya tetap berada dalam lingkup pengawasan BBPOM DIY.
Dalam sejumlah kasus yang pernah ditangani, masalah keamanan makanan kerap dipicu oleh faktor mikrobiologi yang berkaitan erat dengan buruknya standar higiene dan sanitasi saat proses pengolahan makanan.
Baca Juga
- Niat Berburu Sunrise Usai Main Skateboard, Dua Pemuda Tewas di Embung Kaliaji Sleman
- 6 Wisatawan Terseret Ombak di Pantai Menganti Cilacap, 4 Selamat 2 Masih Dicari
BBPOM DIY menyoroti sejumlah titik rawan yang berpotensi memicu kontaminasi bakteri, mulai dari penyimpanan bahan pangan, pengolahan makanan, hingga kebersihan area distribusi.
“Fokus kami adalah melihat di bagian mana risiko kontaminasi bakteri bisa muncul, lalu memberikan rekomendasi agar itu tidak terjadi,” terang Ani.
Ia mencontohkan, penyimpanan bahan mentah yang berdekatan dengan makanan siap konsumsi menjadi salah satu kesalahan yang cukup berisiko. Telur atau bahan pangan mentah yang belum dibersihkan berpotensi membawa bakteri apabila ditempatkan terlalu dekat dengan makanan matang.
Tak hanya itu, area pencucian wadah makanan atau ompreng yang berada dekat dengan lokasi makanan siap distribusi juga dinilai dapat meningkatkan risiko penyebaran bakteri.
BBPOM DIY turut mengingatkan pentingnya menjaga sistem sanitasi tetap lancar, mengingat sisa makanan yang menumpuk di saluran pembuangan dapat menjadi tempat berkembang biaknya mikroorganisme berbahaya.