Sabtu, 06 Juni 2026
--°C --
-- · --
News

WASPADA El Nino 2026! BMKG Prediksi Puncak Kemarau Agustus, Ini Peta Kekeringan di DIY

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
24/05/2026, 09:23 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
WASPADA El Nino 2026! BMKG Prediksi Puncak Kemarau Agustus, Ini Peta Kekeringan di DIY

Ilustrasi kekeringan melanda sejumlah wilayah Indonesia termasuk DIY dampak dari fenomena El Nino 2026.Foto:ig@brin_indonesia

jogja.fin.co.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kembalinya fenomena iklim El Nino pada semester kedua tahun ini. Fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur tersebut diprediksi akan mengubah pola cuaca secara signifikan di berbagai wilayah Indonesia.

Dampak paling nyata dari pergeseran sirkulasi agen cuaca global ini adalah datangnya musim kemarau yang jauh lebih kering serta berdurasi lebih panjang jika dibandingkan dengan kondisi normal.

BMKG memperkirakan intensitas El Nino kali ini berada pada level lemah hingga moderate, dengan peluang di bawah 20 persen untuk berkembang menjadi intensitas kuat. Kendati demikian, pasokan curah hujan yang turun ke daratan dipastikan akan menyusut drastis.

Berdasarkan pemetaan terbaru, puncak musim kemarau ekstrem ini diproyeksikan akan terjadi pada bulan Agustus 2026, sehingga langkah antisipasi dini mutlak diperlukan untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi.

Advertisement

Menyikapi perkembangan iklim nasional tersebut, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu provinsi yang harus meningkatkan kewaspadaan ekstra. Karakteristik geografis beberapa kabupaten di DIY dinilai sangat rentan terhadap ancaman krisis air bersih dan kegagalan panen sektor pertanian akibat hantaman kemarau panjang.

Pemetaan Wilayah Rawan Krisis Air Bersih di Yogyakarta

Kabupaten Gunungkidul kembali menempati posisi teratas sebagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta yang paling sering dan paling parah terdampak bencana kekeringan. Secara teknis, kerentanan tinggi ini disebabkan oleh kondisi bentang alam Gunungkidul yang didominasi oleh kawasan batu gamping atau karst (kapur).

Karakteristik batuan ini membuat air hujan di permukaan cepat meresap ke dalam tanah, sehingga menyulitkan penyimpanan cadangan air permukaan. Sumber air utama di wilayah ini tersimpan dalam bentuk sungai bawah tanah yang membutuhkan biaya eksplorasi sangat mahal dan teknologi tinggi untuk mengangkatnya ke permukiman warga.

Selain kawasan karst Gunungkidul, potensi krisis air bersih akibat el nino juga membayangi tiga kabupaten lain di wilayah penyangga DIY, antara lain:

Baca Juga

Kabupaten Kulon Progo, potensi kekeringan struktural rawan melanda wilayah pedesaan yang berada di sepanjang perbukitan Menoreh bagian utara dan barat.

Kabupaten Bantul , ancaman kelangkaan air bersih sering kali berpusat di beberapa kecamatan dataran tinggi yang minim infrastruktur pipa air baku, seperti Kecamatan Dlingo, Piyungan, dan Pajangan.

Kabupaten Sleman , meskipun berada di dekat sumber mata air, beberapa kawasan di lereng selatan Gunung Merapi bagian atas justru memiliki tingkat resapan air yang terlalu tinggi, sehingga air permukaan cepat hilang ke lapisan bawah tanah saat curah hujan minim.

Advertisement

Langkah Taktis dan Modifikasi Cuaca untuk Cegah Karhutla

Menanggapi ancaman kemarau panjang, pemerintah pusat melalui Kementerian Kehutanan bersama BMKG telah menyiapkan skema mitigasi bencana terintegrasi. Salah satu upaya strategis yang mulai disiapkan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melalui teknologi penyemaian awan di beberapa zona rawan nasional.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja