466 Hewan Kurban di Bantul Positif Cacing Hati, DKPP Sebut Daging Masih Aman Konsumsi
Petugas DKPP Kabupaten Bantul memeriksa organ hati sapi kurban untuk mendeteksi keberadaan parasit Fasciola hepatica saat Idul Adha.Foto:ANT
jogja.fin.co.id - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menemukan ratusan kasus penyakit cacing hati atau Fasciola pada hewan kurban yang disembelih tahun ini. Berdasarkan data panitia di lapangan, sebanyak 466 ekor ternak terkonfirmasi positif mengidap parasit tersebut.
Temuan infeksi organ dalam ini mencakup tiga jenis komoditas ternak yang berbeda. Petugas mendeteksi parasit Fasciola pada 330 ekor sapi dari total 6.108 sapi yang disembelih. Selain itu, penyakit serupa juga menyerang 30 ekor kambing dari populasi 5.418 ekor, serta 106 ekor domba dari total pemotongan sebanyak 14.719 ekor.
Bagian Hati yang Rusak Wajib Dibuang
Kendati angka temuan mencapai ratusan kasus, otoritas peternakan setempat meminta masyarakat tidak panik dalam membagikan maupun mengonsumsi daging kurban. Penyakit parasit ini bersifat lokal pada organ hati dan tidak merusak kualitas jaringan otot atau daging secara keseluruhan.
Kepala DKPP Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, menegaskan bahwa seluruh karkas atau daging dari hewan yang terpapar masih masuk dalam kategori layak konsumsi. Konsumen hanya perlu memilah dan menyingkirkan bagian organ hati yang telah rusak atau berlubang.
Baca Juga
"Hewan yang terkena cacing hati itu masih bisa dikonsumsi dagingnya, tapi yang terkena luka cacing hati harus dipotong dan dibuang. Penyakit cacing hati merupakan hal yang umum ditemukan setiap tahun saat Hari Raya Kurban, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir karena bagian daging pada hewan tersebut masih bisa dikonsumsi," ujar Joko Waluyo, Kamis 28 Mei 2026.
Petugas di lapangan telah memberikan panduan darurat kepada para panitia masjid mengenai teknik penanganan organ dalam yang terinfeksi. Pembuangan hati yang sakit ditujukan untuk memutus potensi penularan sekunder.
Kontaminasi Pakan Jadi Penyebab Utama
Munculnya cacing hati pada ternak umumnya berkaitan erat dengan pola pemeliharaan di tingkat peternak, terutama dalam pemilihan sumber pakan hijau. Rumput yang tumbuh di area basah atau dekat saluran air sering kali menjadi tempat menempelnya larva parasit.
Siklus hidup parasit ini melibatkan siput air tawar berukuran kecil sebagai inang perantara. Larva cacing yang menempel pada daun rumput kemudian tertelan oleh ternak saat diberi makan, lalu berkembang biak di dalam kantung empedu dan jaringan hati hewan.
Baca Juga
- Polisi Periksa Lima Saksi Kasus Dugaan Malpraktik Balita Tewas di RSUD Prambanan
- Niat Berburu Sunrise Usai Main Skateboard, Dua Pemuda Tewas di Embung Kaliaji Sleman
"Cacing hati itu kan carrier-nya dari hewan semacam siput kecil yang bersarang di rumput pakan kemudian dikonsumsi ternak. Antisipasi cacing hati bisa dilakukan dua hingga tiga bulan sebelum hewan ternak disembelih dengan pemberian obat cacing," kata Joko.
Penanganan medis pra-penyembelihan sebenarnya efektif menekan angka kasus jika peternak tertib memberikan obat cacing secara berkala. Namun, bagi ternak yang sudah terlanjur dipotong dengan kondisi hati rusak, tindakan pemotongan dan eliminasi organ menjadi opsi terakhir.
DKPP Bantul mencatat aktivitas pemotongan pada hari pertama Idul Adha, Rabu 27 Mei 2026, berlangsung di 2.069 titik lokasi dengan total akumulasi penyembelihan mencapai 26.245 ekor hewan. Angka ini diprediksi terus bertambah seiring berlangsungnya pemotongan di hari tasyrik.