Sabtu, 06 Juni 2026
--°C --
-- · --
News

Muncul Baliho Raja Baru PB XIV di Solo, KPH Eddy Wirabhumi: Saya Bertanggung Jawab Penuh!

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
01/06/2026, 18:10 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Muncul Baliho Raja Baru PB XIV di Solo, KPH Eddy Wirabhumi: Saya Bertanggung Jawab Penuh!

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi, Foto:ANT

jogja.fin.co.id - Ketegangan baru kembali menyelimuti internal Keraton Surakarta Hadiningrat menyusul kemunculan pengumuman mengejutkan di ruang publik. Sebuah baliho berukuran besar yang memajang foto PB XIV Mangkubumi mendadak terpasang di kawasan strategis Gladag, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Gambar tersebut memperlihatkan sosok PB XIV Mangkubumi yang mengenakan pakaian kebesaran khas Raja Keraton Solo. Pada bagian bawah gambar, tertera tulisan nama gelar kebangsawanan yang cukup mencolok, yaitu Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIV Keraton Surakarta.

Pemasangan atribut ini langsung memicu spekulasi kuat mengenai arah suksesi kepemimpinan dinasti kerajaan tersebut.

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi, tidak menampik bahwa keberadaan alat peraga tersebut berkaitan erat dengan suksesi internal. Menurutnya, publik bebas memaknai kemunculan gambar tersebut, baik sebagai maklumat untuk warga Solo, pengumuman internal, maupun informasi bagi pihak pemerintah.

Advertisement

Eddy tidak memberikan jawaban hitam-putih saat awak media menanyakan apakah baliho tersebut merupakan pengumuman resmi mengenai sosok raja baru bagi warga Solo. Ia justru melemparkan balik penafsiran itu kepada publik dan menyatakan bahwa pengertian dari aksi tersebut sangat luas, baik untuk urusan ke dalam benteng kerajaan maupun hubungan ke luar dengan otoritas pemerintahan, karena esensi keraton didasarkan pada ikatan lahir dan batin.

Diklaim Selaras dengan Semangat Kebangsaan

Eddy mengungkapkan bahwa pihak panitia sengaja memilih momentum Hari Lahir Pancasila untuk memajang gambar sang tokoh. Otoritas dewan adat memandang ada keselarasan makna antara penegasan simbol adat dengan penguatan nilai kebangsaan yang fondasinya ikut dibangun oleh para leluhur kerajaan di masa lalu.

"Garisnya itu sebenarnya adalah meneguhkan satu sisi adat dan tradisi budaya, sisi lain pada saat kita juga bersama-sama mendirikan negara dan bangsa ini, juga harus konsisten dengan apa yang sudah kita bersama-sama mendirikan bangsa. Ini kan kebangsaan kita toh, Pancasila itu kan gitu," ucap Eddy menjabarkan alasan pemilihan tanggal.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa eksistensi figur seorang raja merupakan pilar utama bagi keberlangsungan Keraton Surakarta. Atas dasar pemikiran itulah, dewan adat memilih momentum awal Juni ini untuk meneguhkan keberadaan sosok pemimpin yang baru ke tengah masyarakat luas.

Siap Hadapi Konsekuensi Hukum Nasional

Baca Juga

Di balik klaim sepihak ini, Eddy mengakui adanya dinamika sengketa internal keluarga yang hingga kini belum sepenuhnya mereda. Situasi pelik di dalam benteng kerajaan memaksa pihak LDA melakukan penyesuaian strategi, termasuk dalam tata cara berkomunikasi dan menyampaikan maklumat suksesi kepada publik.

Sadar bahwa manuver ini berpotensi memicu reaksi keras dari kubu lain atau otoritas terkait, menantu mendiang PB XII ini menyatakan kesiapannya untuk menghadapi segala risiko yang muncul di kemudian hari.

"Nah, oleh karena itu, saya hanya ingin mengatakan saya bertanggung jawab penuh dari sisi hukum bahwa apa yang kita lakukan ini adalah berpegang teguh pada ketentuan adat dan ketentuan hukum nasional," ujarnya.

Advertisement

Eddy juga mengaku hal tersebut merupakan kapasistas dan tugas serta kewenangannya.

"Di situlah kapasitas tugas dan kewenangan saya," tutur Eddy dengan nada tegas.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja