Minggu, 07 Juni 2026
--°C --
-- · --
News

Beda Analisis UPN-UGM Soal Kebakaran Seyegan: Antara Gas Organik Purba dan Limbah Potong Ayam

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
04/06/2026, 20:35 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Beda Analisis UPN-UGM Soal Kebakaran Seyegan: Antara Gas Organik Purba dan Limbah Potong Ayam

Kebakaran yang terjadi di dalam rumah Seyegan secara misterius yang kini diteliti oleh UGM dan UPN.Foto:IST

jogja.fin.co.id - Penanganan fenomena rentetan kebakaran misterius di rumah warga Seyegan, Kabupaten Sleman, kini memasuki babak baru yang diwarnai perbedaan sudut pandang ilmiah. Dua institusi pendidikan tinggi besar di Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, melahirkan kesimpulan sementara berbeda. Perbedaan hasil laboratorium ini menggeser spekulasi publik dari yang semula bernuansa mistis menjadi sebuah ruang diskusi akademik yang dinamis.

Sebelumnya, rumah milik keluarga Mutfiana menjadi pusat perhatian setelah berbagai perabotan di dalamnya terbakar secara mendadak hingga sembilan kali dalam sehari. Kondisi anomali tersebut mendorong tim penjinak bom (Jibom) Gegana Polda DIY serta para pakar geologi dan kimia turun langsung melakukan pemetaan zonasi bahaya.

Perbedaan mendasar dari kedua lembaga riset tersebut terletak pada identifikasi jenis unsur kimia utama yang memicu munculnya kobaran api di dalam ruangan.

"Kesimpulan sementara, keluarnya api, berasosiasi dengan gas hidrogen," papar Ketua Tim Pusat Kajian Pelambaran Entropi (PKPE) FT UGM, Prof Alva Edy Tontowi, Kamis 4 Juni 2026.

Advertisement

Sengketa Jenis Unsur Kimia Pembakar

Dalam rekam jejak investigasi awal, tim peneliti dari UPN Veteran Yogyakarta menduga kuat bahwa pemicu utama rangkaian kebakaran tersebut adalah akumulasi gas metana (CH4). Sebaliknya, rangkaian observasi berkala yang dilaksanakan oleh tim Teknik Kimia dan Teknik Geologi UGM justru tidak menangkap adanya indikasi zat mudah terbakar lain di luar senyawa gas hidrogen (H2).

Instrumen pengukur milik UGM bahkan merekam kadar hidrogen yang sangat tinggi di dekat titik api kamar tidur dengan angka indikator mencapai 0,40, serta di area kamar mandi sebesar 0,11. Perbedaan data instrumen ini memicu analisis lanjutan mengenai karakter masing-masing senyawa dalam merespons suhu ruangan.

Titik sumbu perbedaan berikutnya berlanjut pada asal-usul atau sumber hulu tempat gas tersebut diproduksi. Teori awal dari UPN mengarahkan indikasi pada sisa-sisa materi organik purba masa lalu yang tertimbun jauh di dalam lapisan tanah dangkal, mirip dengan karakteristik fenomena gas bumi alami.

Sementara itu, tim PKPE FT UGM melihat pemicunya berasal dari faktor aktivitas lingkungan terdekat atau antropogenik. Para ahli UGM menunjuk aktivitas fermentasi limbah organik dari usaha pemotongan ayam yang dikelola oleh keluarga korban sebagai biang keladi utama.

Sisa jaringan hewan yang menumpuk di samping dinding rumah diduga kuat menjadi media berkembangnya bakteri Clostridium yang aktif memproduksi gas hidrogen.

Baca Juga

Mekanisme Pemantik dan Solusi Penanganan Lapangan

Hal paling menarik dari perbandingan ini adalah cara kedua tim menjelaskan bagaimana api dapat menyala sendiri tanpa pemantik korek konvensional. Jika teori metana fokus pada tekanan suhu, tim UGM menawarkan argumentasi biokimia dengan menyisipkan keberadaan gas fosfin (PH3). Senyawa ini terbentuk secara alami dari penguraian material kaya fosfat seperti bagian tulang keras dan bulu-bulu unggas.

Karakteristik unik gas fosfin adalah kemampuannya untuk berinteraksi dan terbakar secara mandiri pada suhu ruangan biasa begitu bersentuhan dengan oksigen bebas. Reaksi spontan fosfin inilah yang diduga bertindak sebagai pemantik awal, yang kemudian menyambar konsentrasi gas hidrogen yang telah memenuhi ruangan hunian korban.

Advertisement

Guna memastikan keandalan draf analisis masing-masing, tim UGM terus mematangkan pengujian sampel melalui penggalian tanah dangkal serta uji laboratorium lanjutan.

Terlepas dari perdebatan teoritis mengenai metana purba versus hidrogen limbah, kedua tim sepakat meminta pemilik hunian mengosongkan barang berisiko serta membuka ruang ventilasi selebar mungkin agar konsentrasi zat kimia di udara segera terurai.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja