Dinas Pariwisata Sleman Bidik Perputaran Uang Triliunan Rupiah dari Liburan Sekolah
Pemandangan kawasan wisata Kaliurang di bawah lereng Gunung Merapi Sleman yang menjadi salah satu destinasi favorit pelancong saat masa liburan.Foto:Unsplash@FadhilaNurhakim
jogja.fin.co.id - Dinas Pariwisata Sleman memproyeksikan lonjakan aktivitas ekonomi yang sangat masif sepanjang momentum libur sekolah 2026. Otoritas pariwisata ini memperkirakan nilai peredaran uang dari pergerakan wisatawan di wilayah Sleman mampu menyentuh angka maksimal Rp1,265 triliun dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.
Potensi perputaran modal yang tinggi ini linier dengan kesiapan infrastruktur serta destinasi unggulan yang tersebar di wilayah utara Yogyakarta tersebut.
Masa libur sekolah tahun ini terjadwal mulai tanggal 22 Juni hingga 11 Juli 2026. Namun, jajaran Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mengambil kebijakan untuk memperluas durasi pemantauan dan pencatatan pergerakan arus wisatawan selama 23 hari, terhitung sejak 20 Juni sampai dengan 12 Juli 2026.
"Peredaran uang dari wisatawan diperkirakan berada diantara Rp337,5 milyar sampai dengan Rp1.265,625 milyar," jelas Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Kus Endarto di Sleman, Kamis 4 Juni 2026.
Baca Juga
Estimasi Kunjungan dan Nilai Belanja Per Wisatawan
Tim analisis data pariwisata daerah memprediksi volume kedatangan pelancong akan berada di rentang angka 300.000 hingga 450.000 kunjungan selama masa liburan tersebut.
Arus kedatangan ini diproyeksikan mampu mendongkrak rata-rata tingkat keterisian kamar hotel atau okupansi penginapan di Kabupaten Sleman pada kisaran angka 40 persen hingga 60 persen. Sementara itu, rata-rata durasi tinggal atau length of stay wisatawan diperkirakan bertahan di angka 1,5 hingga 2,0 hari.
Suntikan dana triliunan rupiah ke sektor riil daerah mengacu pada proyeksi pengeluaran per individu. Dinas Pariwisata Sleman mencatat rata-rata belanja satu orang wisatawan berada di angka Rp750 ribu hingga Rp1 juta per satu kali kunjungan.
Komponen pengeluaran tersebut mencakup kebutuhan biaya akomodasi penginapan, makan minum, pembelian tiket masuk objek wisata, hingga belanja produk suvenir atau oleh-oleh lokal.
Dari sisi pendapatan asli daerah (PAD), sektor retribusi pada dua destinasi utama yang dikelola langsung oleh Pemerintah Kabupaten Sleman, yakni Kawasan Kaliurang dan Kawasan Kaliadem, ditargetkan mampu menyumbang angka masuk sebesar Rp50 juta hingga Rp75 juta sepanjang periode liburan.
Baca Juga
- Cegah Fenomena 'Nuthuk' Harga di Musim Liburan, Sleman Wajibkan Transparansi Tarif Sektor Wisata
- Beda Analisis UPN-UGM Soal Kebakaran Seyegan: Antara Gas Organik Purba dan Limbah Potong Ayam
Evaluasi Kinerja dan Pengetatan Regulasi Lapangan
Proyeksi pertumbuhan ekonomi pada paruh tahun ini sekaligus menjadi momentum bagi dinas terkait untuk mengejar ketertinggalan target tahunan. Berdasarkan data sementara yang dihimpun hingga 31 Mei 2026, total kunjungan wisatawan ke Sleman baru tercatat sebanyak 3.069.511 kunjungan. Angka tersebut baru memenuhi 35,53 persen dari target keseluruhan tahun 2026 yang dipatok sebesar 8.553.878 kunjungan.
Realisasi performa hingga akhir Mei ini sebenarnya menunjukkan adanya tren penurunan sebesar 12,57 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 lalu, yang saat itu mampu menyentuh angka 3.510.750 kunjungan.
Sejauh ini, struktur pergerakan masih didominasi oleh wisatawan nusantara sebesar 97,97 persen. Dari jumlah tersebut, pergerakan terbesar berasal dari Pulau Jawa dengan persentase 87,93 persen, di mana pasar utama berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Guna menjamin perputaran uang triliunan rupiah tersebut berdampak sehat bagi citra daerah, Kepala Dinas Pariwisata Sleman menerbitkan Surat Edaran khusus mengenai jaminan keamanan dan kenyamanan berwisata.