News . 16/06/2026, 19:07 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Misteri kematian tragis satu keluarga di dalam tenda mewah (glamping) Taman Wisata Alam Posong, Kabupaten Temanggung akhirnya terpecahkan. Kepolisian Daerah Jawa Tengah memastikan seluruh korban tewas akibat menghirup gas beracun karbon monoksida (CO) dari tungku penghangat.
Kapolres Temanggung, AKBP Zamrul Aini mengatakan, dalam mengusut kasus kematian empat orang satu keluarga pihaknya menerapkan metode scientific crime investigation (SCI). Proses pengusutan tim penydik melibatkan kolaborasi ketat Biddokkes Polda Jateng, Bidlabfor Polda Jateng, Jatanras Polda Jateng, serta Polres Temanggung.
Dia menjelaskan, tim penyidik mengidentifikasi zat mematikan bersumber dari abu pembakaran briket pada tungku penghangat di dalam area tenda. Hasil ini berdasarkan kombinasi olah tempat kejadian perkara (TKP), uji laboratorium forensik, hingga autopsi jasad korban.
"Penyebab kematian adalah keracunan karbon monoksida yang mengakibatkan mati lemas," ungkap AKBP Zamrul, Senin 15 Juni 2026.
AKBP Zamrul membeberkan petaka bermula dari penggunaan tungku tanah liat alias anglo pemberian pengelola wisata. Fasilitas tersebut sebenarnya berguna menahan hawa dingin pegunungan. Pihak pengelola menginstruksikan penyewa menaruh alat penghangat di luar ruang, namun para korban justru memasukkannya ke dalam tenda tertutup.
Petugas menemukan tungku briket berada di dalam ruangan. Sebaliknya, perangkat memasak lain seperti kompor beserta gas portabel justru terletak di area luar tenda.
Penyidik sejauh ini sudah menginterogasi 27 saksi guna memperjelas konstruksi peristiwa. Daftar terperiksa meliputi manajemen objek wisata, wisatawan sekitar lokasi, hingga kerabat dekat para korban.
"Kami juga meminta pandangan dari saksi ahli, akademisi, serta petugas pos pengamatan vulkanologi," tambah Zamrul.
Sejumlah barang bukti ikut disita dari lokasi kejadian. Polisi mengamankan satu unit kompor portabel, dua tabung gas berukuran kecil, wadah penggorengan, tungku tanah liat beserta alasnya, serta sisa abu briket.
Dokter forensik turut memeriksa sisa hidangan makan malam korban berupa daging slice berbumbu, sosis, kembang tahu, jamur enoki, selada, nasi putih, dan ubi parut. Hasil uji laboratorium menyatakan bahan makanan tersebut steril dari zat berbahaya.
"Pemeriksaan kriminalistik menunjukkan barang bukti positif mengandung karbon monoksida dan negatif dari unsur sianida," tegasnya.
Tragedi memilukan ini menimpa pasangan suami istri Muhamad Ali Munawar (52) dan Maghfirah (43), bersama dua anak mereka, Bagas Amar Hakiki (21) serta Alvino Evan Hakim (16). Warga menemukan keempat korban dalam kondisi tidak bernyawa pada Rabu, 27 Mei 2026 di kawasan wisata Desa Tlahab, Kecamatan Kledung.
Rombongan satu keluarga ini mendaftar masuk penginapan sejak Selasa, 26 Mei 2026 sekitar pukul 21.05 WIB. Mereka berencana menikmati masa liburan di lereng Gunung Sindoro tersebut.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media