News . 14/08/2026, 15:02 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
Ia mengaku sempat merasa kagum sekaligus gugup ketika pertama kali memasuki kawasan Istana Kepresidenan Yogyakarta.
Rasa tersebut perlahan dikelola dengan dukungan pamong, pelatih, dan teman-teman sesama calon Paskibraka.
Bagi Haifa, teman-temannya selama karantina sudah seperti keluarga. Ia memilih bercerita kepada mereka ketika menghadapi rasa gugup.
Haifa juga mengandalkan doa dan zikir untuk menjaga ketenangan menjelang pelaksanaan tugas.
Ketika berbicara mengenai posisi yang akan dijalankan dalam upacara, Haifa tidak memiliki harapan khusus.
Menurutnya, setiap posisi memiliki peran masing-masing dan seluruh anggota Paskibraka merupakan satu kesatuan.
“Semua posisi penting dan Paskibraka adalah satu kesatuan, bukan tiap-tiap pasukan,” tegas Haifa.
Baginya, kesempatan menjadi Paskibraka bukan hanya pengalaman selama masa SMA. Ia melihatnya sebagai ruang untuk berkontribusi kepada negara sebagai generasi muda sekaligus pelajar.
Pengalaman serupa dirasakan Tama.
Sebagai “Pak Lurah”, ia dituntut mampu mengatur waktu, bergerak cepat, serta tanggap terhadap setiap arahan selama menjalani latihan dan karantina.
Peran tersebut juga membuatnya belajar mengambil keputusan secara cepat dan tepat.
Tama tidak mempersoalkan posisi yang nantinya diberikan dalam pelaksanaan upacara.
“Karena semuanya mempunyai peran masing-masing. Dan semua pasukan itu juga paskibraka,” ucap Tama.
Menurutnya, setiap anggota memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi dalam pelaksanaan tugas.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media