News . 08/09/2026, 22:49 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Kasus dugaan keracunan massal kembali mencuat pada pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 50 siswa dan 3 guru SDN 1 Sumberagung, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, mengalami gejala keracunan usai menyantap menu makanan program tersebut.
Buntut dari kejadian ini, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Patalan, Jetis, yang menjadi penyuplai makanan langsung dihentikan sementara operasionalnya sejak Senin 7 September 2026.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Bantul, Hermawan Setiaji, menyatakan pihaknya mendesak pemberian sanksi yang lebih berat mengingat insiden serupa pernah terjadi sebelumnya di wilayah yang sama pada April 2026.
"Untuk SPPG-nya sekarang ditutup sementara sambil menunggu evaluasi dari Badan Gizi Nasional.," Hermawan Selasa 8 September 2026.
Sebenarnya, lanjut Hermawan pihaknya ingin ada Langkah lebih tegas lagi, mengingat dugaan keracunan MBG ini bukan pertama kalinya.
"Tapi kalau dari kita inginnya ada langkah yang lebih tegas, karena sudah dua kali," ujarnya.
Gejala keracunan bermula ketika para korban menyantap menu yang terdiri dari potato wedges, buah semangka, sayur buncis wortel, tempe garit, bistik, serta galantin pada Jumat 4 September 2026 pukul 09.00 WIB. Sejumlah guru sempat menaruh curiga karena tekstur galantin pada ompreng berbeda dari biasanya.
Kecurigaan terbukti ketika para korban mulai mengeluhkan pusing, mual, muntah, diare, hingga lemas dalam beberapa hari berikutnya hingga harus diantar pulang oleh pihak sekolah.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, angkat bicara menanggapi rentetan kasus keracunan yang kembali terjadi. Sultan menilai insiden tersebut bukan faktor kesengajaan, melainkan murni akibat keteledoran dalam pengolahan serta penyimpanan bahan makanan.
"Saya yakin bahwa keracunan itu memang tidak sengaja, tapi teledor aja," kata Sultan di Kompleks Kepatihan.
Sultan menyoroti pentingnya ketelitian pengelola dalam memperhitungkan kapasitas penyimpanan pendingin dan jeda waktu memasak dengan waktu konsumsi. Menurutnya, makanan berkuah atau sayuran yang dimasak terlalu dini sangat berisiko basi jika dikonsumsi pada siang hari.
Ia juga mengingatkan manajemen stok bahan baku seperti daging harus disesuaikan dengan kapasitas lemari pendingin yang memadai agar kualitasnya tetap terjaga sebelum diolah. Meski demikian, Sultan berpandangan bahwa penghentian total program bukanlah solusi utama selama standar pengawasan dapat dibenahi.
"Kalau saya bukan disetop, asal bisa menangani yang baik sebetulnya enggak perlu disetop," pungkasnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media