Rabu, 07 Oktober 2026
--°C --
-- · --
Eksplore Jogja

Lahan Sawah Menyusut, Sleman Dorong Warga Konsumsi Ubi Hingga Jantung Pisang

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
06/10/2026, 21:47 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Lahan Sawah Menyusut, Sleman Dorong Warga Konsumsi Ubi Hingga Jantung Pisang

Sekretaris Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto menegaskan pentingnya mengubah pola konsumsi masyarakat lewat pemanfaatan potensi pangan lokal non-beras.Foto:jogja.fin.co.id

jogja.fin.co.id - Ancaman alih fungsi lahan pertanian memicu Pemerintah Kabupaten Sleman menggenjot kampanye diversifikasi konsumsi pangan. Masyarakat didorong mengurangi ketergantungan pada beras dan beralih memanfaatkan bahan lokal seperti singkong, ubi, hingga jantung pisang.

Data Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman mencatat produksi beras daerah ini sebenarnya naik dari 60.200 ton pada 2024 menjadi 63.786 ton pada 2025. Nilai Indeks Ketahanan Pangan Sleman juga mencapai 85,50 dan menjadi yang terbaik di Pulau Jawa.

Namun laju alih fungsi lahan sawah dan regenerasi petani yang lambat menjadi tantangan nyata. Pemerintah daerah memilih mengambil langkah antisipasi awal sebelum krisis pasokan beras terjadi.

Sekretaris Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto menegaskan pentingnya mengubah pola konsumsi masyarakat lewat pemanfaatan potensi pangan lokal non-beras.

"Penguatan pangan lokal menjadi fokus penting untuk menjaga ketahanan pangan daerah. Kami mendorong diversifikasi berbasis bahan lokal seperti umbi-umbian hingga olahan jantung pisang," kata Rofiq Andriyanto di Sleman, Selasa 6 Oktober 2026.

Gerakan berpaling dari beras ini didukung munculnya inovasi pengolahan pangan di tingkat warga. Di kawasan Minggir, UMKM Singkong Anak Tani mengolah umbi menjadi singkong bumbu beku, timus ubi ungu, hingga getuk. Usaha ini menaikkan nilai jual hasil panen warga sekaligus memperluas konsumsi non-beras.

Inovasi lain muncul di Dusun Tampungan, Berbah. Warga setempat memanfaatkan jantung pisang menjadi produk abon olahan. Produk ini tidak hanya memperkuat cadangan pangan alternatif, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi ibu rumah tangga.

Mengimbangi kampanye pangan lokal, Pemkab Sleman menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Pemerintah mengunci area Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) untuk menahan alih fungsi sawah.

Skema asuransi pertanian juga disiapkan lewat APBD 2026 dengan nilai premi Rp1,8 juta per hektare untuk melindungi petani dari risiko gagal panen.

Puncak peringatan Hari Pangan Sedunia tingkat Kabupaten Sleman bakal digelar pada Rabu, 21 Oktober 2026. Acara diisi talkshow diversifikasi pangan, pameran produk olahan UMKM, hingga peluncuran aplikasi peta potensi pertanian.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja