Rabu, 14 Oktober 2026
--°C --
-- · --
News

Kepungan Asap Karhutla Capai Malaysia, Pakar UGM Ungkap Api Gambut Sulit Padam

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
14/10/2026, 15:27 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Kepungan Asap Karhutla Capai Malaysia, Pakar UGM Ungkap Api Gambut Sulit Padam

Ilustrasi kebakaran lahan gambut yang sulit dipadamkan, asap mencapai Malaysia.Foto:IG

jogja.fin.co.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan terus meluas hingga memicu munculnya titik api baru di Merauke, Papua. Dampak sebaran kabut asap bahkan telah menurunkan kualitas udara di Malaysia dan Singapura, hingga memaksa penutupan aktivitas belajar mengajar tatap muka di sejumlah sekolah di Malaysia.

Pakar Bidang Kebakaran Hutan dan Lahan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, menilai periode El Nino yang panjang memicu kekeringan ekstrem pada material pembakar.

"Curah hujannya minimum dan ini bukan di awal-awal musim. Semakin lama masuk ke periode El Nino, curah hujannya mendekati nol, kondisi bahan bakar seperti gambut menjadi lebih rentan," ujar Fiqri, Rabu 14 Oktober 2026.

Meski kekeringan meningkatkan kerentanan lahan, Fiqri menegaskan kekeringan bukan pemicu tunggal. Karhutla tetap membutuhkan sumber penyulutan api yang berinteraksi langsung dengan bahan bakar dan oksigen.

Api Mengendap di Bawah Tanah

Fiqri menjelaskan karakteristik kebakaran pada lahan non-gambut dan lahan gambut sangat berbeda. Pada ekosistem non-gambut, api membakar permukaan hingga tajuk tanaman. Sementara di lahan gambut, kobaran api menjangkau bagian permukaan sekaligus lapisan bawah tanah.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman menjadi rumit. Penyiraman air dari permukaan kerap hanya memadamkan api di bagian atas, sementara bara di dalam tanah tetap menyala.

"Gejala kebakaran di bawah permukaan dapat dikenali melalui kondisi vegetasi yang mengering, daun yang menggulung, serta munculnya asap meskipun tidak terlihat nyala api," tutur Fiqri.

Ia menambahkan, petugas di lapangan juga menghadapi kendala aksesibilitas. Banyak titik kebakaran berada di lokasi terpencil dengan pasokan air, jumlah personel, dan sarana pemadaman yang sangat terbatas.

Tantangan Teknologi Pemadaman

Indonesia saat ini menggunakan beberapa sistem pemantauan titik api seperti FIRMS, Sipongi, dan data BMKG. Fiqri menilai teknologi deteksi awal sudah bekerja baik, namun efektivitas metode pemadaman di lapangan masih perlu ditingkatkan.

Petugas kini mulai menerapkan metode penyuntikan air langsung ke dalam lapisan gambut serta penggunaan bahan pendingin khusus untuk mengisolasi bara. Namun teknik ini masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut.

Fiqri menegaskan, penanganan karhutla tidak boleh bertumpu pada turunnya hujan semata. Kesadaran masyarakat untuk tidak membersihkan lahan dengan cara membakar harus terus ditingkatkan.

"Perlu upaya yang dilakukan tidak hanya dari satu instansi saja, tetapi juga dari berbagai instansi. Penanganannya dapat diarahkan ke wilayah-wilayah prioritas yang memang memiliki risiko tinggi," pungkasnya.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja