Senin, 19 Oktober 2026
--°C --
-- · --
News

Waspada Krisis Air Bersih! Data BMKG Jogja Catat 101 Titik Masuk Kriteria Ekstrem Tanpa Hujan

L
Lina · Lina
Tim Redaksi
16/10/2026, 17:48 WIB
Bagikan
Saluran WhatsApp Resmi jogja.fin.co.id
Dapatkan berita terupdate langsung di WhatsApp
Follow
Waspada Krisis Air Bersih! Data BMKG Jogja Catat 101 Titik Masuk Kriteria Ekstrem Tanpa Hujan

Ilustrasi kekeringan di DIY.Foto:Markus Spiske/Unsplash

jogja.fin.co.id - Ancaman krisis air bersih dan kekeringan lahan pertanian makin mengintai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Yogyakarta mendata 101 titik pengamatan masuk kategori ekstrem panjang tanpa hujan.

Data hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) menunjukkan warna merah mendominasi hampir seluruh kabupaten dan kota di DIY.

Wilayah Bantul, Gunungkidul, Kota Yogyakarta, Kulon Progo, serta Sleman terpantau berada pada level peringatan tinggi.

Dominasi angka 101 titik pada grafik kriteria ekstrem panjang ini mempertegas kondisi tanah yang makin mengering. Kategori ini menjadi sinyal kuat penurunan pasokan air tanah bagi kebutuhan harian warga serta sektor irigasi pertanian.

Tim Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan pengelolaan konsumsi air.

"Data pemantauan HTH memperlihatkan mayoritas wilayah DIY mengalami periode tanpa hujan yang sangat panjang. Pemda dan warga perlu mengantisipasi dampak kekeringan pada sektor pertanian serta pasokan air bersih," rilis BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta melalui laman resminya.

Kategori sangat panjang, menengah, pendek, dan sangat pendek hanya mencatatkan sedikit titik pengamatan pada grafik. Kondisi ini menandakan penyebaran cuaca kering merata di wilayah DIY.

Ancaman Sektor Pertanian dan Pasokan Baku

Dampak langsung periode panjang tanpa hujan mengancam produktivitas lahan tanam. Sektor pertanian darat dan sawah tadah hujan berpotensi mengalami gagal panen bila ketersediaan air irigasi terus menyusut.

Selain sektor pertanian, cadangan air sumur warga di sejumlah wilayah rawan kekeringan mulai menyusut. Efisiensi penggunaan air bersih menjadi tindakan penting guna mencegah krisis berkepanjangan hingga masa peralihan musim mendatang.

Bagikan Artikel
Lina
Lina
Penulis
FIN BIro Jogja