Eksplore Jogja . 21/10/2026, 21:15 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Di balik ratusan karya lukis ekspresionisme yang mendunia, maestro lukis Affandi rupanya meninggalkan catatan harian serta sketsa rahasia yang tersimpan rapi.
Fakta tersebut terungkap dalam ajang Focus Group Discussion (FGD) Memori Kolektif Bangsa (MKB) yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman di Sajian Kembang Turi, Rabu 21 Oktober 2026.
Kepala Museum Affandi, Novida Abbas mengungkapkan sang maestro memiliki kebiasaan unik yang jarang diketahui publik. Affandi tidak hanya menuangkan gagasannya di atas kanvas, tetapi juga rajin mencatat perjalanan hidup dan rancangan karyanya.
”Meskipun bangsa kita malas mencatat, ada untungnya juga bahwa Pak Affandi itu agak suka mencatat,” kata Novida.
Seluruh arsip catatan pribadi dan sketsa tersebut hingga kini tersimpan rapi di Museum Affandi, Tepi Sungai Gajah Wong, Depok, Sleman.
Dari wujud catatan harian itu, terkuak berbagai rahasia rancangan masa lalu. Salah satunya adalah sketsa rumah panggung di bawah loteng yang digambar langsung oleh Affandi pada tahun 1953.
Bentuk bangunan dalam sketsa tua tersebut terbukti sama persis dengan fisik bangunan yang kini berdiri menjadi Kafe Loteng di area museum.
Rancangan tersebut dibuat jauh sebelum area museum berdiri. Affandi baru mulai membangun kompleks museum pada 1962, tepat setelah ia berhasil melunasi sebidang tanah di tepi Sungai Gajah Wong yang dibelinya secara mencicil.
Selain mencatat rancangan fisik bangunan, peninggalan tertulis itu juga merekam wasiat pribadi sang maestro sebelum meninggal dunia pada 23 Mei 1990.
Affandi berpesan agar jasadnya dimakamkan berdampingan dengan karya-karya seni ciptaannya. Saat ini, makam seniman kelahiran Cirebon 18 Mei 1907 itu berada tepat di antara Galeri I dan Galeri II, bersanding dengan makam istrinya, Maryati.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar mengatakan pentingnya penyelamatan seluruh arsip peninggalan Affandi agar dapat ditetapkan sebagai Memori Kolektif Bangsa.
Abu Bakar berharap forum diskusi tersebut menghasilkan rekomendasi konkret yang menjadi dasar kuat penetapan kearsipan sejarah nasional.
"Kita berharap forum ini dapat menghasilkan rekomendasi dan informasi yang menjadi dasar dalam proses pengusulan memori kolektif bangsa," ujar Abu Bakar.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media