News . 06/11/2026, 16:47 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat tingkat kepadatan populasi tikus di wilayahnya berada pada angka yang memprihatinkan. Hasil pemantauan perangkap tikus atau Rodent Trap Success Rate sepanjang 2025 hingga 2026 mencapai 34,2 persen.
Angka tersebut melampaui batas standar baku mutu kesehatan lingkungan Kementerian Kesehatan yang menetapkan target di bawah 1 persen. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan penyakit Leptospirosis, terutama saat memasuki musim hujan.
Leptospirosis merupakan infeksi bakteri Leptospira yang ditularkan melalui urine hewan terinfeksi, khususnya tikus. Bakteri ini masuk ke tubuh manusia lewat kulit tergores atau selaput lendir mata, hidung, dan mulut saat bersentuhan dengan air atau tanah tercemar.
"Pada musim hujan, risiko paparan meningkat ketika masyarakat beraktivitas di lingkungan tergenang air, saluran drainase, sawah, kebun, atau lokasi yang berpotensi tercemar urine tikus," tulis Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dalam rilis resminya, Kamis 5 November 2026.
Genangan air hujan dan saluran drainase yang meluap menjadi media utama penyebaran bakteri. Warga yang sering beraktivitas di area basah tanpa pelindung diri menjadi kelompok paling rentan tertular.
Dinkes Sleman meminta warga tidak mengabaikan gejala awal penularan. Pemeriksaan medis harus segera dilakukan begitu muncul tanda-tanda infeksi.
"Apabila mengalami demam mendadak, nyeri otot terutama pada betis, sakit kepala, atau keluhan lain setelah terpapar air maupun lingkungan berisiko, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan," tegasnya.
Penanganan cepat diperlukan karena Leptospirosis bisa berkembang menjadi infeksi berat yang membahayakan nyawa jika terlambat ditangani. Pencegahan Mandiri dari RumahPengendalian populasi tikus menjadi fokus penanganan utama di lapangan melalui pendekatan One Health yang melibatkan lintas sektor. Petugas kesehatan di puskesmas juga mendapatkan bimbingan teknis agar kasus dapat ditemukan lebih dini.
Meski begitu, intervensi pemerintah memerlukan partisipasi aktif dari lingkungan rumah tangga. Warga diminta disiplin menjaga kebersihan hunian masing-masing.
Penggunaan alat pelindung diri seperti sepatu bot kedap air dan sarung tangan wajib dipakai saat harus menerjang genangan air atau membersihkan saluran pembuangan. Makanan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat agar tidak dihinggapi tikus.
Masyarakat juga diimbau mengelola sampah domestik dengan benar serta segera menutup luka terbuka dengan plester kedap air sebelum beraktivitas di luar rumah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media