News . 26/05/2026, 23:40 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menerjunkan sebanyak 20 mahasiswa untuk mengawasi proses pemotongan hewan kurban di luar rumah pemotongan hewan (RPH) di wilayah Kota Yogyakarta.
Puluhan mahasiswa terpilih itu dijadwalkan bertugas selama empat hari, mulai 26 hingga 29 Mei 2026, guna memastikan pelaksanaan penyembelihan kurban berjalan sesuai standar kehalalan, kesehatan, dan kesejahteraan hewan.
Ketua Jagal Halal UGM, Endy Triyannanto, mengatakan keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari tindak lanjut kerja sama antara UGM dan pemerintah daerah.
“Sebanyak 20 mahasiswa terpilih akan bertugas sebagai pengawas pemotongan hewan kurban di luar RPH wilayah Kota Yogyakarta,” kata Endy di Yogyakarta, Selasa 26 Mei 2026.
Menurut Endy, pengawasan dilakukan untuk memastikan proses penyembelihan memenuhi standar syariat Islam sekaligus memperhatikan prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare).
Mahasiswa sebelumnya telah mendapatkan pembekalan teknis agar memahami prosedur penyembelihan halal hingga pemeriksaan kesehatan hewan setelah dipotong atau post-mortem.
“Pembekalan komprehensif ini penting agar mahasiswa mampu mengawal proses penyembelihan secara halal sekaligus memastikan pemeriksaan post-mortem berjalan optimal,” ujar Endy.
Pemeriksaan post-mortem sendiri dilakukan untuk mengecek kondisi organ dan kualitas daging setelah penyembelihan, sehingga aman dikonsumsi masyarakat.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat banyak lokasi penyembelihan kurban berlangsung di luar fasilitas rumah potong hewan resmi.
Sementara itu, Dekan Fapet UGM, Budi Guntoro, meminta mahasiswa menjaga integritas selama menjalankan tugas di lapangan.
Ia menegaskan bahwa daging kurban yang diterima masyarakat harus memenuhi prinsip ASUH, yakni aman, sehat, utuh, dan halal.
“Mahasiswa perlu memastikan daging yang sampai ke masyarakat memenuhi standar ASUH,” kata Budi.
Selain menjadi bentuk pengabdian masyarakat, keterlibatan mahasiswa juga dipandang sebagai sarana pembelajaran langsung di lapangan.
Program kolaborasi antara akademisi dan pemerintah daerah itu dirancang tidak hanya untuk membantu pengawasan kurban, tetapi juga memperkuat kompetensi praktis mahasiswa.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan teknis, sensitivitas sosial, hingga kepemimpinan lapangan saat berhadapan langsung dengan masyarakat.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media