Misteri Teror Api Seyegan Mulai Terkuak, Geolog Temukan Jejak Gas Rawa Purba di Sleman
Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. RM. Basuki Rahmad.Foto:IST
Tim ahli juga mengagendakan pengujian laboratorium lanjutan pada pekan depan untuk memastikan tingkat keamanan lingkungan.
Pengujian meliputi pemeriksaan kadar gas di sepanjang jalur udara serta pengambilan sampel air sumur warga. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah sumber air telah terpapar senyawa metana atau masih berada dalam batas aman.
Sarju menerangkan, air yang mengandung gas metana tidak langsung menyala saat masih berada di dalam tanah. Proses pelepasan gas terjadi ketika air mencapai permukaan dan terpapar udara bebas.
Geolog Sarankan Perbaikan Sirkulasi Udara
Sebagai bentuk antisipasi, tim geolog menyarankan pemilik rumah meningkatkan sirkulasi udara di dalam ruangan. Warga dianjurkan memasang kipas angin dinding atau blower pada titik yang dinilai rawan menjadi lokasi penumpukan gas.
Baca Juga
"Peningkatan kualitas sirkulasi udara di dalam ruangan cukup membantu mengurangi penumpukan senyawa metana pada perabot rumah tangga," jelas Sarju.
Karakter gas metana yang ringan membuat senyawa tersebut cenderung bergerak ke atas menuju atmosfer. Karena itu, risiko penyebaran ke rumah sekitar dinilai kecil.
Sebelumnya, Mutfiana melaporkan munculnya kobaran api misterius sebanyak 39 kali di 34 titik berbeda di rumahnya sejak pertengahan Mei. Kasus ini sempat ditangani Tim Gegana Brimob Polda DIY yang awalnya menduga sumber masalah berasal dari kebocoran gas septic tank.
Meski saluran pembuangan telah diperbaiki, api masih muncul secara berkala karena gas di bawah tanah diperkirakan membutuhkan waktu mingguan hingga bulanan untuk menghilang sepenuhnya.
Demi keselamatan keluarga, pemilik rumah sementara memilih mengungsi ke rumah kerabat pada malam hari sambil menunggu pemantauan lanjutan dari tim gabungan.