News . 16/06/2026, 15:24 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Sesi diskusi publik berjudul "Pancasila Pemersatu Bangsa" di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM berubah menjadi arena demonstrasi massal pada Senin, 15 Juni 2026 malam. Aliansi Mahasiswa UGM membubarkan paksa acara setelah merasa tertantang oleh pernyataan para pemateri di podium.
Forum tersebut menghadirkan tiga pejabat Kabinet Prabowo-Gibran selaku pembicara utama. Ketiganya adalah Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
Awalnya agenda penyampaian materi berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Situasi berbalik tegang saat para pembicara menantang publik untuk berani melayangkan kritik secara langsung secara tatap muka, bukan melalui platform media sosial.
Merespons tantangan tersebut, sekelompok mahasiswa seketika menyalakan sirine tanda bahaya. Mereka merangsek naik ke atas panggung utama dan membentangkan spanduk kain putih berukuran besar dengan tulisan merah 'UGM Tolak Penjilat Rezim'.
Aksi protes di dalam ruangan sempat diwarnai insiden pelemparan gelas plastik air mineral. Pihak keamanan internal kampus segera mengevakuasi ketiga pejabat negara ke luar area Joglo GIK demi menghindari gesekan fisik lebih lanjut.
Namun, ratusan mahasiswa lain sudah bersiap melakukan pengepungan di area luar gedung. Massa menahan laju kendaraan rombongan hingga memicu aksi kejar-kejaran antara mahasiswa dengan para pejabat yang hendak meninggalkan lokasi.
Berbeda dengan Budiman Sudjatmiko yang langsung meninggalkan tempat, Nusron Wahid dan Sudaryono memilih turun menemui demonstran. Kedua pejabat ini bersila langsung di atas aspal jalanan untuk berdialog dengan massa yang meluapkan kekecewaan mereka.
Dalam rilis resminya, Aliansi Mahasiswa UGM menyatakan tindakan ini merupakan bentuk akumulasi kejengkelan terhadap kondisi ekonomi politik nasional. Mahasiswa menilai pemerintah saat ini sedang mengalami sakit kronis sehingga membutuhkan gerakan revolusi sebagai obat penyembuh.
"Kami mengidentifikasi bahwa pemerintah sedang sakit kronis dan REVOLUSI adalah obatnya," tulis aliansi mahasiswa dalam selebaran pers mereka.
Pengunjuk rasa mempertanyakan komitmen moral para pejabat dalam membicarakan nilai-nilai Pancasila di lingkungan kampus. Mereka menganggap pemerintah justru sibuk menghamburkan anggaran negara demi program populis tak bermanfaat seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih di tengah meluasnya kemiskinan. Mahasiswa juga menyoroti pembiaran konflik agraria serta proyek food estate yang merampas hak-hak tanah adat.
Perwakilan Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, Mesa, menilai ketegangan di lapangan merupakan potret wajar dalam koridor negara demokrasi. Menurut penilaiannya, gesekan fisik terjadi lantaran pemerintah kerap mengabaikan masukan publik yang disampaikan secara baik-baik.
"Gesekan ini terjadi karena mereka banyak mengibul, mereka banyak berbohong," tutur Mesa saat memberikan konfirmasi di lokasi kejadian.
Mesa menambahkan bahwa mahasiswa terpaksa berteriak lantaran saluran komunikasi formal dengan penguasa sudah tersumbat. Mahasiswa memandang para pejabat negara kehilangan legitimasi berbicara tentang keadilan sosial selama pembungkaman suara kritis masyarakat terus berjalan di berbagai daerah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media