News . 16/06/2026, 19:54 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
jogja.fin.co.id - Pemerintah Kota Yogyakarta meluncurkan strategi jemput bola untuk mengatasi problem sampah spesifik berukuran besar milik warga kota. Melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) Masyarakat Jogja Olah Sampah atau Mas Jos, penanganan limbah rumah tangga kini tidak lagi bertumpu pada pembuangan mandiri.
Kehadiran tim lapangan ini menjadi jawaban konkret bagi sebagian besar masyarakat perkotaan. Selama ini, warga seringkali kebingungan membuang barang-barang bekas berukuran raksasa yang sulit masuk ke tempat pembuangan biasa.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menjelaskan layanan gratis ini berfokus pada evakuasi barang-barang rumah tangga kategori khusus. Petugas di lapangan siap mengangkut benda-benda berbobot berat langsung dari kediaman pemohon.
"Layanan dari tim lapangan berupa penjemputan berbagai jenis sampah spesifik rumah tangga, seperti kasur bekas, perabot, barang elektronik, hingga ranting pohon," urai Hasto Wardoyo di Yogyakarta, Selasa, 16 Juni 2026.
Inovasi penanganan limbah spesifik ini langsung mendapat sambutan luar biasa dari publik. Sepanjang tahun 2026, pusat data TRC Mas Jos mencatat total masuk sebanyak 2.078 berkas permohonan layanan intervensi sampah dari masyarakat.
Dari ribuan pengajuan tersebut, manajemen Mas Jos meloloskan 1.757 permohonan warga. Sebaliknya, pihak pemkot terpaksa menolak 321 permohonan akibat posisi rumah pelapor berada di luar batas teritorial wilayah Kota Yogyakarta.
"Sebanyak 1.332 pemohon telah melengkapi data administrasi, 425 lainnya masih proses kelengkapan, dan lebih dari seribu permohonan sudah berhasil dieksekusi tim," tambah Hasto Wardoyo merinci performa pasukan Mas Jos.
Selain mengandalkan armada penjemput sampah raksasa, otoritas Jogja terus menggenjot gerakan reduksi limbah dari hulu. Pemkot Yogyakarta memperluas jangkauan instalasi sistem biopori jumbo guna memotong rantai distribusi sampah organik menuju tempat pembuangan akhir.
Teknologi ramah lingkungan ini sekarang sudah beroperasi masif di 45 kelurahan. Jumlah titik penyerapan limbah dapur itu melonjak tajam dari semula hanya 622 lokasi, kini menjadi 1.022 tempat penampungan tanah.
Program pengolahan sisa makanan, kulit buah, dan daun kering tersebut juga sengaja diintegrasikan dengan sejumlah area publik. Pemerintah mengoptimalkan fungsi Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) seperti RTHP Warungboto, Gajahwong Edu Park, Tegalrejo, dan Purwokinanti sebagai basis pembuatan pupuk kompos kota.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media